Akhlak Luhur Ulama Salaf Terhadap Perbedaan Pendapat Yang Mereka Alami

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📌 Tema ini sering kami angkat bahkan sangat sering, baik lisan dan tulisan

📌 Karena kata Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya,ย ย  “Laa yazaal al khulfu bainan naas fi adyaanihim …” ( Tafsir Ibnu Katsir, 4/361), artinya manusia senantiasa berselisih pada urusan agama mereka ..

📌 Oleh karena itu kami tidak bosan dan tidak boleh lelah mengingatkan manusia tentang hal ini

📌 Banyak manusia semangat dalam mempelajari fiqih atau menanyakan fiqih, tapi lupa adab-adab dalam berfiqih. Fiqihnya ulama salaf itu penting, tapi mempelajari bagaimana adab mereka lebih penting

📌 Maka, kita dapati para salaf lebih mendahulukan belajar adab dibanding fiqih

📌 Kaku, keras, galak, bengis, dan memonopoli kebenaran, adalah potensi yang mungkin terjadi jika hanya belajar fiqih – apalagi jika hanya dari satu model pemikiran tanpa open mind terhadap yang lain – tanpa mempelajari adab dan penerapan fiqihnya di masyarakat

📌 Kadang sikap memaksakan kehendak juga dilakukan oleh oknum ustadz, sehingga muridnya pun mengikutinya. Hampir-hampir dia terjatuh pada sikap Iblis, “Ana khairu minhu – Aku lebih baik darinya.”

📌 Akhirnya, yang terjadi adalah fitnah dan keributan, bahkan khawatir sampai taraf “lakum diinukum waliyadin” terhadap saudaranya yang berbeda pendapat dengannya

📌 Sebagian orang ada yg standar ukhuwah Islamiyahnya dilihat dari kesamaan fiqih, sikap al Wala’ wal Bara’ dilihat dari kesamaan fiqih, menyikapi manhaj dilihat dari kesamaan fiqih ..

📌 Jika sama fiqihnya maka menjadi saudara, boleh menjadi ber-tawalli (dijadikan loyalitas), dan semanhaj … jelas ini salah faham dan salah penerapan

Berikut ini, akan kami tampilkan bagaimana mulianya para salafush shalih, terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka .. semoga kita semua bisa ambil pelajaran.

Selamat menikmati!

1โƒฃ Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah menceritakan:

ูุฑูˆู‰ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ( 1 / 307 ) ุฃู† ุนุซู…ุงู† ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุตู„ู‰ ุจู…ู†ู‰ ุฃุฑุจุนุง ุŒ ูู‚ุงู„ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ู…ู†ูƒุฑุง ุนู„ูŠู‡ : ุตู„ูŠุช ู…ุน ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡
ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฑูƒุนุชูŠู† ุŒ ูˆ ู…ุน ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ ุฑูƒุนุชูŠู† ุŒ ูˆ ู…ุน ุนู…ุฑ ุฑูƒุนุชูŠู† ุŒ ูˆ ู…ุน ุนุซู…ุงู† ุตุฏุฑุง ู…ู† ุฅู…ุงุฑุชู‡ ุซู… ุฃุชู…ู‡ุง ุŒ ุซู… ุชูุฑู‚ุช ุจูƒู… ุงู„ุทุฑู‚ ูู„ูˆุฏุฏุช ุฃู† ู„ูŠ ู…ู† ุฃุฑุจุน ุฑูƒุนุงุช ุฑูƒุนุชูŠู† ู…ุชู‚ุจู„ุชูŠู† ุŒ ุซู… ุฅู† ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ุตู„ู‰ ุฃุฑุจุนุง ! ูู‚ูŠู„ ู„ู‡ : ุนุจุช ุนู„ู‰ ุนุซู…ุงู† ุซู… ุตู„ูŠุช ุฃุฑุจุนุง ุŸ ! ู‚ุงู„ : ุงู„ุฎู„ุงู ุดุฑ . ูˆ ุณู†ุฏู‡ ุตุญูŠุญ . ูˆ ุฑูˆู‰ ุฃุญู…ุฏ ( 5 / 155 ) ู†ุญูˆ ู‡ุฐุง ุนู†
ุฃุจูŠ ุฐุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู… ุฃุฌู…ุนูŠู† .

Diriwayatkan olehย  Imam Abu Daud (1/307), bahwasanya Khalifah โ€˜Utsman bin โ€˜Affan Radhiallahu โ€˜Anhu shalat di Mina 4 rakaat.

Maka sahabat nabi, yaitu Abdullah bin Masโ€™ud Radhiallahu โ€˜Anhu mengingkarinya seraya berkata:

โ€œAku dulu shalat bersama Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, Abu Bakr, โ€˜Umar dan di awal pemerintahan โ€˜Utsman sebanyak 2 rakaat, dan setelah itu โ€˜Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan diantara kalian, dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.โ€

Namun ketika di Mina,ย  Abdullah bin Masโ€™ud justru juga shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau:

โ€œEngkau dulu telah mengingkari โ€˜Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!โ€

Abdullah bin Masโ€™ud berkata: โ€œPerselisihan itu jelek.โ€ Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar Radhiallahu โ€˜Anhum Ajmaโ€™in.

( As Silsilah Ash Shahihah, 1/389)

2โƒฃ Imam Al Qasim bin Muhammad Rahimahullah

Beliau adalah salah satu tujuh fuqaha Madinah di zaman tabi’in, dan merupakan cucu dari Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu.

Beliau ditanya oleh seseorang:

ุณุฃู„ุช ุงู„ู‚ุงุณู… ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุนู† ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ุฎู„ู ุงู„ุฅู…ุงู… ููŠู…ุง ู„ู… ูŠุฌู‡ุฑ ููŠู‡, ูู‚ุงู„: ุฅู† ู‚ุฑุฃุช ูู„ูƒ ููŠ ุฑุฌุงู„ ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฃุณูˆุฉุŒ ูˆุฅุฐุง ู„ู… ุชู‚ุฑุฃ ูู„ูƒ ููŠ ุฑุฌุงู„ ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฃุณูˆุฉ.

Aku bertanya kepada Al Qasim bin Muhammad tentang membaca (Al Fatihah) dibelakang imam yang dia tidak mengeraskan bacaannya.

Beliau menjawab: “Jika kamu membacanya maka kamu memiliki contoh dari para sahabat nabi, dan jika kamu tidak membaca maka kamu juga memiliki contoh dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

(Imam Ibnu Abdil Bar, Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, 2/161)

3โƒฃ Imam Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah

ุฅุฐุง ุฑุฃูŠุช ุงู„ุฑุฌู„ ูŠุนู…ู„ ุงู„ุนู…ู„ ุงู„ุฐูŠ ู‚ุฏ ุงุฎุชู„ู ููŠู‡ ูˆุฃู†ุช ุชุฑู‰ ุบูŠุฑู‡ ูู„ุง ุชู†ู‡ู‡.

โ€œJika engkau melihat seorang melakukan perbuatan yang masih diperselisihkan, padahal engkau punya pendapat lain, maka janganlah kau mencegahnya.โ€

(Imam Abu Nuโ€™aim Al Asbahany, Hilaytul Auliya, 3/133)

Tentang merutinkan Qunut Subuh, Imam At Tirmidzi berkata:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุณููู’ูŠูŽุงู†ู ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุฑููŠู‘ู ุฅูู†ู’ ู‚ูŽู†ูŽุชูŽ ูููŠ ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู ููŽุญูŽุณูŽู†ูŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู‚ู’ู†ูุชู’ ููŽุญูŽุณูŽู†ูŒ

โ€œBerkata Sufyan Ats Tsauri: โ€œJika berqunut pada shalat shubuh, maka ituย  bagus, dan jika tidak berqunut itu juga bagus.โ€

(Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401)

4โƒฃ Imam Yahya bin Sa’id Al Qaththan Rahimahullah

Beliau berkata:

ู…ุง ุจุฑุญ ุฃูˆู„ูˆ ุงู„ูุชูˆู‰ ูŠูุชูˆู† ููŠุญู„ ู‡ุฐุง ูˆูŠุญุฑู… ู‡ุฐุง ูู„ุง ูŠุฑู‰ ุงู„ู…ุญุฑู… ุฃู† ุงู„ู…ุญู„ ู‡ู„ูƒ ู„ุชุญู„ูŠู„ู‡ ูˆู„ุง ูŠุฑู‰ ุงู„ู…ุญู„ ุฃู† ุงู„ู…ุญุฑู… ู‡ู„ูƒ ู„ุชุญุฑูŠู…ู‡.

Para ahli fatwa sering berbeda fatwanya, yang satu menghalalkan yang ini dan yang lain mengharamkannya. Tapi, mufti yang mengharamkan tidaklah menganggap yang menghalalkan itu binasa karena penghalalannya itu. Mufti yang menghalalkan pun tidak menganggap yang mengharamkan telah binasa karena fatwa pengharamannya itu.

(Imam Ibnu Abdil Bar, Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, 2/161)

5โƒฃ Imam Asy Syafi’i Rahimahullah

Imam Asy Syafi’i (juga Imam Malik) berpendapat sunnahnya Qunut Subuh. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hambal yang memandang tidak ada Qunut Subuh.

Diceritakan dalam Al Mausuโ€™ah sebagai berikut:

ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ุงู„ู’ู‚ูู†ููˆุชูŽ ูููŠ ุงู„ุตู‘ูุจู’ุญู ู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ู…ูŽุนูŽ ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู ูููŠ ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูู‡ูู…ู’ ุจูุถูŽูˆูŽุงุญููŠ ุจูŽุบู’ุฏูŽุงุฏูŽ . ููŽู‚ูŽุงู„ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู : ููŽุนูŽู„ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฏูŽุจู‹ุง ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุฅู’ูู…ูŽุงู…ู ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ูŽุฉู ุจูŽู„ ุชูŽุบูŽูŠู‘ูŽุฑูŽ ุงุฌู’ุชูู‡ูŽุงุฏูู‡ู ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ูˆูŽู‚ู’ุชู .

โ€œAsy Syafiโ€™i Radhiallahu โ€˜Anhu meninggalkan qunut dalam subuh ketika Beliau shalat bersama jamaah bersama kalangan Hanafiyah (pengikut Abu Hanifah) di Masjid mereka, pinggiran kota Baghdad. Berkata Hanafiyah: โ€œPerbuatannya itu merupakan adab bersama imam.โ€ Berkata Asy Syafiโ€™iyyah (pengikut Asy Syafiโ€™i): โ€œBahkan beliau telah merubah ijtihadnya pada waktu itu.โ€

( Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/302. Wizarah Al Awqaf Asy Syuโ€™un Al Islamiyah)

6โƒฃ Imam Ahmad bin Hambalย  Rahimahullah

Beliau mengomentari orang yang shalat dua rakaat setelah Ashar:

ู„ุง ู†ูุนู„ู‡ ูˆู„ุง ู†ุนูŠุจ ูุงุนู„ู‡

Kami tidak melakukannya tapi kami tidak juga menilai aib orang yang melakukannya.

( Al Mughni, 2/87,ย  Syarhul Kabir, 1/802)

Tentang Qunut Subuh,ย  diceritakan tentang Imam Ahmad Rahimahullah :

ูู‚ุฏ ูƒุงู† ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏู ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ูŠุฑู‰ ุฃู†ู‘ูŽ ุงู„ู‚ูู†ููˆุชูŽ ููŠ ุตู„ุงุฉ ุงู„ูุฌุฑ ุจูุฏู’ุนุฉุŒ ูˆูŠู‚ูˆู„: ุฅุฐุง ูƒู†ุช ุฎูŽู„ู’ููŽ ุฅู…ุงู… ูŠู‚ู†ุช ูุชุงุจุนู‡ ุนู„ู‰ ู‚ูู†ููˆุชูู‡ูุŒ ูˆุฃู…ู‘ูู†ู’ ุนู„ู‰ ุฏูุนุงุฆู‡ุŒ ูƒูู„ู‘ู ุฐู„ูƒ ู…ูู† ุฃุฌู„ ุงุชู‘ูุญุงุฏ ุงู„ูƒู„ู…ุฉุŒ ูˆุงุชู‘ููุงู‚ ุงู„ู‚ู„ูˆุจุŒ ูˆุนุฏู… ูƒุฑุงู‡ุฉ ุจุนุถู†ุง ู„ุจุนุถ.

โ€œImam Ahmad Rahimahullah berpendapat bahwa qunut dalam shalat fajar (subuh) adalah bidโ€™ah.

Namun Beliau mengatakan:

โ€œJika aku shalat di belakang imam yang berqunut, maka aku akan mengikuti qunutnya itu, dan aku aminkan doanya, semua ini lantaran demi menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghilangkan kebencian antara satu dengan yang lainnya.โ€

(Syaikh Ibnu Al โ€˜Utsaimin, Syarhul Mumtiโ€™, 4/25. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi, contoh-contoh sudah cukup mewakili betapa luas, luwes, dan lapang dada para imam generasiย  awal terhadap perbedaan pendapat di antara mereka.

Mampukah kita meneladaninya?

Wallahu A’lam

🍃🌸🌾🌻🌴🌺โ˜˜🌷

โœ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top