Tafsir Surat Al Hujurat bag. 12 (Ayat ke-14)

HAKIKAT IMAN DAN ISLAM

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (14)

Dan orang-orang Arab Badui, itu berkata,”Kami telah beriman. Katakanlah,” Kamu belum beriman, tapi katakanlah,” Kami telah tunduk karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah, dan Rasul-Nya, Dia tidak mengurangi sedikitpun pahala amalanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat [49]:14

Sabab Nuzul Ayat

Imam Al Wahidi menyebutkan bahwa sebab turun ayat ini adalah, saat sekelompok Bani Asad bin Khuzaimah tiba di Madinah, pada musim kemarau, mereka menyatakan syahadatnya namun belum beriman dalam hati. Mereka kemudian berkata kepada Rasulullah shalallah alaihi wasallam,” Kami datang kepadamu dengan beban berat dan keluarga kami Ya Rasulullah. Kami juga tidak memerangimu seperti Banu Fulan yang memerangimu. Maka berilah kami sadaqah”. Mereka terus menerus menyebut hal itu, hingga Allah menurunkan ayat ini.[1]

Kebahasaan

الأعراب: اسم جنس لبدو العرب، واحده أعرابى، وهم الذين يسكنون البادية

Al’ A’rab adalah kata benda jenis, untuk menyatakan suku Atab Badawi (Badui), bentuk tunggalnya Al A’raby, mereka tinggal di pedalaman.[2]

Kandungan ayat

Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya:

وَقَدِ اسْتُفِيدَ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ: أَنَّ الْإِيمَانَ أَخَصُّ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا هُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ

Ayat mulia ini mengandung makna, bahwa iman lebih spesifik dari Islam, seperti yang disebutkan oleh Ahlus sunnah.[3]

Syekh Wahbah Zuhaili menyebutkan bahwa pernyataan Allah kepada orang Arab Badui dalam ayat:

قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا

Kamu belum beriman

Memiliki makna bahwa iman kalian (Arab Badui) pada zaman dahulu hingga ayat ini diturunkan, tidaklah berguna karena belum mengimani dengan hati yang sesungguhnya.[4]

Adakah Beda iman dan islam?

Iman dan islam merupakan persoalan mendasar dalam keyakinan beragama, termasuk kedalam pokok bahasan tauhid, para ulama sudah sejak dahulu memiliki perbedaan pendapat terkait makna dan batasan diantara keduanya. Seperti disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah:

  • Jika penyebutan iman dan islam secara terpisah maka keduanya bermakna dinul islam (agama islam) secara utuh.
  • Kata “iman” kadang terpisah tanpa diikuti kata “islam” atau “amal shalih” atau yang lainnya seperti dalam hadits saat Jibril bertanya kepada Rasulullah tentang, apakah iman, islam dan ihsan. Dalam hal ini, islam dimaknai sebagai amalan lahir seperti, syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Sedangkan iman dimaknai sebagai, keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para Rasul, hari akhir dan takdir baik dan buruk.[5]

Sedangkan menurut Syekh Shalih Utsaimin ketika menyebutkan pengertian iman:

Jika kata iman dan islam disebut secara bersamaan, maka islam dimaknai sebagai penyerahan total secara lahir kepada Allah, baik lisan maupun perbuatan, sehinga terbagi menjadi mukmin yang sempurna imannya, atau mukmin yang lemah imannya. Seperti dalam firman Allah:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Dan orang-orang Arab Badui, itu berkata,”Kami telah beriman. Katakanlah,” Kamu belum beriman, tapi katakanlah,” Kami telah tunduk karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.

Juga terbagi menjadi munafik, namun masih disebut sebagai muslim secara lahiriyah. Namun kafir secara batin. Iman dimaknai sebagai penyerahan diri secara bathin, yaitu keyakinan dalam hati, dan melaksanakan dengan perbuatan. Iman ini tak kan terekspresi melainkan dari mukmin yang benar imannya. Seperti dalam ayat:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا

“Sesungguhnya orang yang beriman adalah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal, yaitu orang-orang yang menafkahkan sebagian rezeki yang telah kami berikan kepada mereka, itulah orang-orang mukmin yang sebenar-benarnya…( QS. Al Anfal [8]:2-4)

Dengan demikian, setiap mukmin pasti muslim dan tidak setiap muslim ia mukmin. Dari sinilah makna iman lebih tinggi dari makna islam.[6]

Menurut Abu Hanifah dalam kitabnya al Fikh al Akbar:

والاسلام هُوَ التَّسْلِيم والإنقياد لأوامر الله تَعَالَى فَمن طَرِيق اللُّغَة فرق بَين الْإِسْلَام وَالْإِيمَان وَلَكِن لَا يكون إِيمَان بِلَا اسلام وَلَا يُوجد إِسْلَام بِلَا إِيمَان وهما كالظهر مَعَ الْبَطن وَالدّين اسْم وَاقع على الْإِيمَان وَالْإِسْلَام والشرائع كلهَا

Islam adalah penyerahan diri dan tunduk terhadap perintah Allah, dari jalur bahasa, ada perbedaan antara Islam dan iman, akan tetapi tak terjadi iman tanpa islam dan tak ada Islam tanpa iman, mereka berdua ibarat lahir dan bathin, agama adalah nama untuk iman, Islam dan syariat sekaligus.[7]

Terkait mengapa Allah menyebut mereka belum beriman, Imam Al Qurthubi mengatakan:

لِأَنَّهُمْ أَسْلَمُوا فِي ظاهر إيمانهم ولم نؤمن قُلُوبُهُمْ، وَحَقِيقَةُ الْإِيمَانِ التَّصْدِيقُ بِالْقَلْبِ

Karena orang-orang Arab pedalaman, mereka telah memeluk Islam, namun hati mereka belum. Dan hakikat iman adalah tasdiq (pembenaran) di dalam hati[8]

Berdasarkan pendapat ulama-ulama diatas menggambarkan bahwa kesempurnaan iman dalam tiga hal:

  • Keyakinan dalam hati
  • Ucapan dengan lisan
  • Dilaksanakan dengan perbuatan

Imam Al Bukhari menjelakan panjang lebar tentang konsekuensi iman yang berkaitan dengan keyakinan maupun amal perbuatan. Diantaranya adalah ucapan Umar bin Abdul Aziz:

إنَّ لِلْإِيمَانِ فَرَائِضَ، وَشَرَائِعَ، وَحُدُودًا، وَسُنَنًا، فَمَنِ اسْتَكْمَلَهَا اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَكْمِلْهَا لَمْ يَسْتَكْمِلِ الإِيمَانَ، فَإِنْ أَعِشْ فَسَأُبَيِّنُهَا لَكُمْ حَتَّى تَعْمَلُوا بِهَا، وَإِنْ أَمُتْ فَمَا أَنَا عَلَى صُحْبَتِكُمْ بِحَرِيصٍ

Iman adalah kewajiban-kewajiban syariat dan akidah, hudud (perintah dan larangan), sunah-sunah, barang siapa yang telah menyempurnakan hal tersebut maka sempurnalah imannya, barang siapa yang belum menyempurnakan hal tersebut, maka belum sempurna imannya, jika aku hidup maka aku akan jelaskan kepadamu agar kamu mengetahuinya, jika aku mati maka aku telah bersungguh-sungguh menjadi sahabatnmu.[9]

Hadits-Hadits tentang iman

1. Menjaga diri lisan dan perbuatan

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma, dari nabi Shalallahu alaihi wasallam, bersabda,” Muslim adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .”[10]

2. Mencintai saudara muslim dan memberikan pertolongan

حَدثنَا قَتادَةُ عَنْ أنَسَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قالَ لاَ يُؤْمَنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam, bersabda,”Tidak beriman seorang diantara kamu hingga mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri”.[11]

3. Tiga ciri manisnya iman

حدّثنا مُحَمَّدُ بْنُ المُثَنَّى قالَ حَدثنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقفِيُّ قَالَ حَدثنَا أيُّوبُ عَنْ أبِي قِلاَبَةَ عَنْ أنَسٍ عَنِ النَّبي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرَءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ لِلَّهِ وَأنْ يَكَرَهُ أنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكَرَهَ أنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin al Mutsanna, telah berkata Abdul Wahab Ats Tsaqafi telah menceritakan Ayub dari Abi Qilabah dari Anas dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, berkata,”Tiga hal barangsiapa yang jika ada pada dirinya, maka ia akan merasakan kelezatan iman, menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, mencintai seseorang, ia tidak mencintai melainkan karena Allah, dan benci kepada kekafiran seperti ia benci dirinya dilemparkan kedalam neraka”.[12]

4. Malu sebagian dari Iman

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ، وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الحَيَاءِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعْهُ فَإِنَّ الحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ

Dari Salim bin Abdillah, dari ayahyna, bahwasanya Rasulullah melewati seseorang dari kalangan Anshar, beliau menasehati tentang sifat malu. Dan bersabda,”Biarkanlah ia, sesunggunya malu adalah sebagian dari iman”. (HR. Al Bukhari, no.24)

5. Iman memiliki cabang

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ»

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasululah Shalallah alaihi wasallam bersabda,”Iman memiliki 70 lebih-atau 60 cabang. Yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah, dan yang aling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalanan, malu adalah cabang iman.” (HR. Muslim, Kitabul Iman, no.58 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi)

Hikmah Ayat

  • Iman dan Islam dua kata yang tida terpisahkan dalam agama Islam.
  • Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan lisan dan amalan perbuatan nyata.
  • Iman lebih ke wilayah hati dan Islam lebih ke wilayah praktek dalam perbuatan.
  • Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambahnya dengan ketaatan, berkurangnya akibat maksiat.

والله أعلم

Fauzan Sugiono


[1] Al Wahidi, Sababun Nuzul, h. 225

[2] Muhammad Sayid At Thantawi, Tafsir al Wasith, 13/320

[3] Tafsir Ibnu Katsir,7/389

[4] Wahbah Az Zuhaily ,Tafsir Al Munir, 26/269

[5] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa13/7-15

[6] Majmu Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin,4/92

[7] Abu Hanifah, Al Fikh al Akbar, (Imarat: Maktabah Al Furqon,1419H), 1/57

[8] Imam Al Qurthubi, Al Jami’ li ahkamil Qur’an, (Mesir: Dar al Kutub al Mishriyah, 1384, 16/348

[9] Sahih Bukhari, Kitabul Iman, 1/10

[10] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40

[11] HR. AL Bukhari, Kitabul Iman, No. 13, 1/12, ta’liq Musthafa al Bugha

[12] HR. Bukhari, Kitabul Iman, no. 16, 1/12, ta’liq Musthafa al Bugha

Serial Tafsir Surat Al-Hujurat

TAFSIR SURAT AL HUJURAT (Muqaddimah)

TAFSIR SURAT AL HUJURAT (BAG.2)

TAFSIR SURAT AL HUJURAT (BAG.3)

TAFSIR SURAT AL HUJURAT (BAG. 4)

TAFSIR SURAT AL HUJURAT [BAG. 5]

TAFSIR SURAT AL HUJURAT [BAG. 6]

Tafsir Surat Al Hujurat bag. 7

Tafsir Surat Al Hujurat Bag. 8

Tafsir Surat Al Hujurat Bag. 9

Tafsir Surat Al Hujurat Bag. 10

TAFSIR SURAT AL HUJURAT BAG 11

Tafsir Surat Al Hujurat bag. 12

Tafsir Surat AL Hujurat Bag. 13

TAFSIR AL QUR’AN SURAT AL HUJURAT Ayat 16-18 (BAG. 14 SELESAI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top