Biografi Al Hasan bin Ali Radhiallahu ‘Anhuma

💦💥💦💥💦💥

📌 Nama dan Julukannya

Abu Muhammad adalah kun-yah Beliau. Nama aslinya adalah Al Hasan, anak pertama dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu โ€˜Anhu. Tadinya, Ali ingin menamakannya dengan harb (perang), tetapi Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memberikan nama Al Hasan.

Ali Radhiallahu โ€˜Anhu berkata:

ูƒูู†ู’ุชู ุฑูŽุฌูู„ุง ุฃูุญูุจู‘ู ุงู„ู’ุญูŽุฑู’ุจูŽ ุŒ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ูˆูู„ูุฏูŽ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ู ู‡ูŽู…ูŽู…ู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุณูŽู…ู‘ููŠูŽู‡ู ุญูŽุฑู’ุจู‹ุง ุŒ ููŽุณูŽู…ู‘ูŽุงู‡ู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽ ุŒ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ูˆูู„ูุฏูŽ ุงู„ู’ุญูุณูŽูŠู’ู†ู ู‡ูŽู…ูŽู…ู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุณูŽู…ู‘ููŠูŽู‡ู ุญูŽุฑู’ุจู‹ุง ุŒ ููŽุณูŽู…ู‘ูŽุงู‡ู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู’ุญูุณูŽูŠู’ู†ูŽ

โ€œSaya adalah laki-laki yang suka perang, ketika Al Hasan lahir saya ingin menamakannya dengan harb, namun Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menamakannya dengan Al Hasan. Ketika lahir Al Husein, saya ingin menamakannya dengan harb, namun Beliau menamakannya dengan Al Husein.โ€ (Diriwayatkan oleh Ath Thabarani No. 2777, Adz Dzahabi dalam As Siyar, 3/247, Al Haitsami dalam Majmaโ€™ Az Zawaid, 8/52, katanya: rijalnya shahih)

📌Tahun Kelahirannya

Dia dilahirkan pada bulan Syaโ€™ban tahun ketiga hijriyah. Ada pula yang mengatakan pertengahan Ramadhan. Az Zubeir bin Bakar mengatakan bahwa Al Hasan dilahirkan pada pertengahan Ramadhan tahun ketiga Hijriyah. Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang lebih benar adalah dia dilahirkan pada bulan Syaโ€™ban. (As Siyar, 3/246-248)

📌Kedudukan di Sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dalam hadits Arbain Nawawi no. 11, Imam An Nawawi menyebutnya dengab As Sibthu dan Raihanah.

As Sibthu adalah cucu dari anak perempuan, sedangkan Hafiid (ุญููŠุฏ) adalah cucu dari anak laki-laki. Jadi, karena Al Hasan adalah anak dari putri Rasulullah Shallallah โ€˜Alaihi wa Sallam, yakni Fathimah Radhiallah โ€˜Anha, maka dia disebut As Sibthu.

Dia disebut Raihanah (wewangian-kesenangan), karena Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda tentang Al Hasan dan Al Husein:

ู‡ู…ุง ุฑูŠุญุงู†ุชุงูŠ ู…ู† ุงู„ุฏู†ูŠุง

โ€œMereka berdua adalah wewangian/kesenangan saya di dunia.โ€ (HR. Bukhari No. 3543. At Tirmidzi No. 3770)

Berkata Syaikh Ibnul โ€˜Utsaimin Rahimahullah:

ุงู„ุฑูŠุญุงู†ุฉ ู‡ูŠ ุชู„ูƒ ุงู„ุฒู‡ุฑุฉ ุงู„ุทูŠุจุฉ ุงู„ุฑุงุฆุญุฉ

โ€œRaihanah adalah bunga yang harum aromanya.โ€ (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 149)

📌 Keadaan dan Postur Tubuhnya

Abu Juhaifah mengatakan Al Hasan adalah yang perawakannya mirip dengan kakeknya. (As Siyar, 3/248).

โ€˜Uqbah bin Al Harits menceritakan:

ุตู„ู‰ ุจู†ุง ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ุงู„ุนุตุฑุŒ ุซู… ู‚ุงู… ูˆุนู„ูŠ ูŠู…ุดูŠุงู†ุŒ ูุฑุฃู‰ ุงู„ุญุณู† ูŠู„ุนุจ ู…ุน ุงู„ุบู„ู…ุงู†ุŒ ูุฃุฎุฐู‡ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑุŒ ูุญู…ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุนู†ู‚ู‡ุŒ ูˆู‚ุงู„: ุจุฃุจูŠ ุดุจูŠู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ู„ูŠุณ ุดุจูŠู‡ ุจุนู„ูŠ ูˆุนู„ูŠ ูŠุชุจุณู…

โ€œAbu Bakar shalat ashar bersama kami, lalu dia dan Ali berdiri lalu berjalan berdua, dia melihat Al Hasan bermain bersama dua anak laki-laki, lalu Abu Bakar mengambilnya dan menggendongnya di atas lehernya, dan dia berkata: โ€œDemi ayahku, dia mirip dengan Nabi, tidak mirip dengan Ali,โ€ dan Ali pun tersenyum.โ€ (Ibid, 3/249. Lihat juga Bukhari dalam Shahihnya No. 3540, dengan lafaz: โ€œ dan Ali pun tertawa.โ€)

Anas bin Malik Radhiallahu โ€˜Anhu, berkata:

ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ุฃูŽุดู’ุจูŽู‡ูŽ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ู ุจู’ู†ู ุนูŽู„ููŠู‘ู

โ€œTidak seorang pun yang mirip dengan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dibandingkan Al Hasan bin Ali.โ€ (HR. Bukhari no. 3542)

📌Kedudukannya di Tengah-Tengah Umat

Al Hasan Radhiallahu โ€˜Anhu memiliki banyak keutamaan, Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menyebutnya sebagai Sayyid (pemimpin-tuan) bagi umat ini yang akan mendamaikan dua kelompok umat Islam yang bertikai.

Tertera dalam Shahih Bukhari:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงุจู’ู†ููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุณูŽูŠู‘ูุฏูŒ ูˆูŽู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุตู’ู„ูุญูŽ ุจูู‡ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ููุฆูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุนูŽุธููŠู…ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ

โ€œSesungguhnya anakku ini adalah seorang pemimpin, melaluinya Allah akan mendamaikan antara dua kelompok besar dari kaum muslimin.โ€ (HR. Bukhari No. 2704)

Saat itu pasca syahidnya Ali bin Abi Thalib Radhiallahu โ€˜Anhu โ€“saat itu pertikaian masih berkecamuk dengan Muโ€™awiyah Radhiallahu โ€˜Anhu, naiklah Al Hasan menjadi khalifah yang tentunya membuat tidak puas pengikut Muโ€™awiyah Radhiallah โ€˜Anhu. Namun, dengan jiwa besar Al Hasan mengundurkan diri dari jabatannya dan digantikan Muโ€™awiyah Radhiallahu โ€˜Anhu. Di sisi lain, Al Hasan pun mampu memberikan pengertian kepada pengikut Ali Radhiallahu โ€˜Anhu, sehingga kedua belah pihak bisa didamaikan.

Syaikh Ibnul โ€˜Utsaimin Rahimahullah mengomentari hadits Bukhari di atas:

ูˆูƒุงู† ุงู„ุฃู…ุฑ ูƒุฐู„ูƒุŒ ูุฅู†ู‡ ุจุนุฏ ุฃู† ุงุณุชุดู‡ุฏ ุนู„ูŠ ุจู† ุฃุจูŠ ุทุงู„ุจ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูˆุจูˆูŠุน ุจุงู„ุฎู„ุงูุฉ ู„ู„ุญุณู† ุชู†ุงุฒู„ ุนู†ู‡ุง ู„ู…ุนุงูˆูŠุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุŒ ูุฃุตู„ุญ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ุฐุง ุงู„ุชู†ุงุฒู„ ุจูŠู† ุฃุตุญุงุจ ู…ุนุงูˆูŠุฉ ูˆุฃุตุญุงุจ ุนู„ูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุงุŒ ูˆุญุตู„ ุจุฐู„ูƒ ุฎูŠุฑ ูƒุซูŠุฑ

โ€œSaat itu begitulah kejadiannya, setelah mati syahidnya Ali bin Abi Thalib Radhiallahu โ€˜Anhu dan Al Hasan dibaiโ€™at menjadi Khalifah, lalu dia menyerahkan jabatan itu kepada Muโ€™awiyah Radhiallahu โ€˜Anhu. Maka, dengan pengunduran diri ini Allah damaikan antara pengikut Muโ€™awiyah dan Ali Radhiallah โ€˜Anhuma, dan dari situ hasilnya adalah kebaikan yang banyak. (Syarhul Arbain An Nawawiyah, hal. 148)

Selain itu, Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam juga begitu mencintai Al Hasan. Diriwayatkan dari Al Bara bin โ€˜Azib Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ู ุจู’ู†ู ุนูŽู„ููŠู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽุงุชูู‚ูู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูุญูุจู‘ูู‡ู ููŽุฃูŽุญูุจู‘ูŽู‡ู

โ€œAku melihat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dan Al Hasan bin Ali ada di pundaknya, beliau bersabda: Ya Allah saya mencintainya, maka cintailah dia.โ€ (HR. Bukhari No. 3539)

📌 Al Hasan Lebih Utama di banding Al Husein

Kedudukan Al Hasan Radhiallahu โ€˜Anhu, lebih utama dibanding Al Husein Radhiallahu โ€˜Anhu, hanya saja kaum Rafidhah (syiah) telah berlebihan terhadap Al Husein lantaran terbunuhnya Beliau di Karbala.

Berkata Syaikh Ibnul โ€˜Utsaimin Rahimahullah:

ูˆู‡ูˆ ุฃูุถู„ ู…ู† ุฃุฎูŠู‡ ุงู„ุญุณูŠู† ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุงุŒู„ูƒู† ุชุนู„ู‚ุช ุงู„ุฑุงูุถุฉ ุจุงู„ุญุณูŠู† ู„ุฃู† ู‚ุตุฉ ู‚ุชู„ู‡ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุชุซูŠุฑ ุงู„ุฃุญุฒุงู†ุŒ ูุฌุนู„ูˆุง ุฐู„ูƒ ูˆุณูŠู„ุฉุŒ ูˆู„ูˆ ูƒุงู†ูˆุง ุตุงุฏู‚ูŠู† ููŠ ุงุญุชุฑุงู… ุขู„ ุงู„ุจูŠุช ู„ูƒุงู†ูˆุง ูŠุชุนู„ู‚ูˆู† ุจุงู„ุญุณู† ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุงู„ุญุณูŠู†ุŒู„ุฃู†ู‡ ุฃูุถู„ ู…ู†ู‡

Dia (Al Hasan) lebih afdhal dibanding saudaranya, Al Husein Radhiallahu โ€˜Anhuma, tetapi Rafidhah mencintai Al Husein karena peristiwa terbunuhnya Radhiallahu โ€˜Anhu yang menimbulkan kesedihan, dan mereka menjadikan peristiwa itu sebagai alasan untuk itu. Seandainya mereka jujur dalam menghormati Alu Bait (keluarga Nabi), niscaya mereka lebih banyak mencintai Al Hasan dibanding Al Husein, karena dia lebih utama darinya.โ€ (Syarhul Arbain An Nawiyah, Hal. 149)

📌 Wafatnya

Beliau wafat karena diracuni pada tahun 50 Hijriyah, berikut ini keterangan Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:

ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูŽูˆู’ู„ูุฏ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู† ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† ุณูŽู†ูŽุฉ ุซูŽู„ูŽุงุซ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู‡ูุฌู’ุฑูŽุฉ ุนูู†ู’ุฏ ุงู„ู’ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑ ุŒ ูˆูŽู‚ููŠู„ูŽ ุจูŽุนู’ุฏ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽู…ูŽุงุชูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู ู…ูŽุณู’ู…ููˆู…ู‹ุง ุณูŽู†ูŽุฉ ุฎูŽู…ู’ุณููŠู†ูŽ ูˆูŽูŠูู‚ูŽุงู„ ู‚ูŽุจู’ู„ู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูู‚ูŽุงู„ ุจูŽุนู’ุฏู‡ูŽุง

โ€œAl Hasan lahir pada Ramadhan tahun ketiga Hijriyah menurut mayoritas ulama, dan ada yang menyebut setelah itu. Dan, wafat di Madinah karena diracun pada tahun lima puluh Hijriyah, ada yang mengatakan sebelumnya ada pula yang mengatakan sesudahnya.โ€ (Fathul Bari, 7/95. Darul Fikr. Lihat juga Syaikh Abul โ€˜Ala Muhammad Abdurrahman Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 10/272. Al Maktabah As Salafiyah)

Wallahu a’lam

🍃🌻🌾🌸🌺🌴☘🌷

✏ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top