Buang Hajat Menghadap Kiblat, Larangan Haram atau Adab Saja?

💢💢💢💢💢💢💢💢

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜ala Rasulillah wa Baโ€™d:

Dari Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah ๏ทป bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุชูŽูŠู’ุชูู…ู’ ุงู„ู’ุบูŽุงุฆูุทูŽ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ููˆุง ุงู„ู’ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุณู’ุชูŽุฏู’ุจูุฑููˆู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ูู‚ููˆุง ุฃูŽูˆู’ ุบูŽุฑู‘ูุจููˆุง

Jika kalian datang ke tempat BAB maka janganlah menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, tetapi hendaknya ke Timur atau ke Barat. [1]

Hadits ini menunjukkan larangan buang hajat, istinja, sambil menghadap kiblat atau membelakanginya. Tapi, apakah makna larangan ini? Apakah ada riwayat sebaliknya yg justru membolehkan menghadap kiblat?

Kalangan Hanafiyah mengatakan itu sebagai makruh tahrim (makruh yang mendekati haram) secara mutlak, dan larangan ini juga berlaku untuk cebok, yang juga makruh tahrim menghadap atau membelakangi kiblat.[2]

Sementara Imam Al Karmani menyebut madzhab-nya Abu Ayyub Al Ansari Radhiallahu โ€˜Anhu, adalah mengharamkan hal ini, baik buang hajatnya di bangunan atau di gurun, sama saja.[3] Ini juga pendapat Imam Sufyan Ats Tsauri. [4]

Sedangkan mayoritas ulama justru mengatakan bahwa tidak apa-apa (boleh) buang hajat menghadap kiblat atau membelakanginya, yaitu jika ada penghalang atau tembok, dalilnya karena Nabi ๏ทบ pernah melakukan juga sebagaimana dalam riwayat Imam At Tirmidzi dari Jabir bin Abdillah. Berikut ini haditsnya:

ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ู†ูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ูŽ ุงู„ู’ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉูŽ ุจูุจูŽูˆู’ู„ูุŒ ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู‡ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู‚ู’ุจูŽุถูŽ ุจูุนูŽุงู…ู ูŠูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ูู‡ูŽุง

โ€œDari Jabir bin Abdullah ia berkata; Nabi ๏ทบ melarang menghadap arah kiblat ketika hendak kencing, namun aku melihat beliau setahun sebelum wafat menghadap arah kiblat.” [5]

Bagi mereka, larangan pada hadits Abu Ayyub yg diriwayatkan Imam Bukhari di atas adalah jika melakukannya di bangunan yang tidak dirancang untuk BAB, atau tanpa penghalang seperti di gurun, sehingga langsung menghadap atau membelakangi kiblat.[6]

Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal tetap menyatakan terlarangnya menghadap kiblat walau terhalang dinding, tapi jika membelakangi boleh.

Imam At Tirmidzi Rahimahullah menjelaskan:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุงู„ู’ูˆูŽู„ููŠุฏู ุงู„ู’ู…ูŽูƒู‘ููŠู‘ู: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู: ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ู„ุงูŽ ุชูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ููˆุง ุงู„ู’ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉูŽ ุจูุบูŽุงุฆูุทู ูˆูŽู„ุงูŽ ุจูŽูˆู’ู„ูุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุณู’ุชูŽุฏู’ุจูุฑููˆู‡ูŽุงุŒ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ููŽูŠูŽุงูููŠุŒ ููŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ูƒูู†ููู ุงู„ู’ู…ูŽุจู’ู†ููŠู‘ูŽุฉู ู„ูŽู‡ู ุฑูุฎู’ุตูŽุฉูŒ ูููŠ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู‡ูŽูƒูŽุฐูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูุณู’ุญูŽุงู‚ู.
ูˆู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุญูŽู†ู’ุจูŽู„ู: ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ุฑู‘ูุฎู’ุตูŽุฉู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุงุณู’ุชูุฏู’ุจูŽุงุฑู ุงู„ู’ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉู ุจูุบูŽุงุฆูุทู ุฃูŽูˆู’ ุจูŽูˆู’ู„ูุŒ ููŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงุณู’ุชูู‚ู’ุจูŽุงู„ู ุงู„ู’ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉู ููŽู„ุงูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ูู‡ูŽุงุŒ ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑูŽ ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽุญู’ุฑูŽุงุกู ูˆูŽู„ุงูŽ ูููŠ ุงู„ู’ูƒูู†ููู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ูŽ ุงู„ู’ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉูŽ

โ€œAbu Al Walid Al Makki berkata; Abu Abdullah Muhammad bin bin Idris Asy Syafi’i berkata; “Hanyasanya makna dari sabda Nabi ๏ทบ : “Janganlah kalian menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang air besar atau kecil” adalah di tempat yang terbuka. Adapun jika di dalam bangunan yang tertutup maka di sana ada keringanan untuk menghadap ke arah kiblat.” Seperti ini pula yang dikatakan oleh Ishaq bin Ibrahim. Sedangkan Ahmad bin Hanbal Rahimahullah mengatakan; “Keringanan ketika buang air besar atau kecil dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam itu hanya untuk membelakanginya, adapun menghadap ke arahnya tetap tidak diperbolehkan.” Seakan-akan Imam Ahmad tidak membedakan di padang pasir atau dalam bangunan yang tertutup untuk menghadap ke arah kiblat.” [7]

Imam Al Khathabi Rahimahullah mengatakan: โ€œMenurut Abdullah bin Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, larangan tersebut adalah jika buang hajatnya di gurun (lapang terbuka), ada pun jika di bangunan tidak apa-apa menghadap kiblat. Ini juga pendapat Malik dan Asy Syafiโ€™i.โ€ [8]

Lalu Al Khathabi berkata:

โ€œAku berkata: pendapat yang diikuti oleh Ibnu Umar dan para fuqaha adalah lebih utama diikuti, sebab pendapat itu menggabungkan beragam riwayat yang berbeda, dan menggunakan beragam perspektif. Ada pun pendapat Abu Ayyub dan Sufyan Ats Tsauri telah menafikan sebagian riwayat dan menggugurkannya.โ€ [9]

Maka, menurut jumhur (mayoritas) ulama tidak apa-apa menghadap kiblat atau membelakanginya jika kita melakukannya di dalam WC yang saat ini kita kenal, sebab itu dirancang untuk BAB dan ada dinding penghalangnya, sehingga tidak langsung menghadap atau membelakangi kiblat sebagaimana di lapangan terbuka, sawah, dan gurun.

Demikian. Wallahu Aโ€™lam.

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

[1] HR. Bukhari no. 394

[2] Syaikh Abdurrahman Al Jaziyri, Al Fiqhu โ€˜Alal Madzaahib Al Arbaโ€™ah, 1/77

[3] Imam Al Karmani, Al Kawakib Ad Durariy, 4/57

[4] Imam Al Khatabi, Maโ€™alim As Sunan, 1/16

[5] HR. At Tirmidzi no. 9

[6] Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/311

[7] Sunan At Tirmidzi no. 8

[8] Imam Al Khathabi, Maโ€™alim As Sunan, 1/16

[9] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top