Hukum Berbicara Ketika Wudhu

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Tidak ada dalil larangan berbicara saat wudhu, hanya saja hal itu memang dapat meninggalkan keadaan yang lebih utama untuk dijaga, yaitu kekhusuโ€™an saat wudhu. Sebab wudhu sendiri sebuah ibadah. Pemakruhan yang disampaikan sebagian ulama karena berbicara saat wudhu telah menyia-nyiakan yang lebih utama yaitu tenang saat berwudhu.

Syaikh Abdullah Al Faqih Haizhahullah berkata:

ููŠุฌูˆุฒ ุงู„ูƒู„ุงู… ุฃุซู†ุงุก ุงู„ูˆุถูˆุกุŒ ูˆู„ู… ูŠุฑุฏ ู…ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุฐู„ูƒ

Dibolehkan berbicara saat berwudhu, dan tidak ada dalil yang menunjukkan larangan hal itu. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, 11/934)

Tersebut dalam Al Mausuโ€™ah:

ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุฌูู…ู’ู‡ููˆุฑู ุงู„ู’ููู‚ูŽู‡ูŽุงุกู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽูƒูŽู„ู‘ูู…ูŽ ุจููƒูŽู„ุงูŽู…ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุญูŽุงุฌูŽุฉู ุฃูŽุซู’ู†ูŽุงุกูŽ ุงู„ู’ูˆูุถููˆุกู ุฎูู„ุงูŽูู ุงู„ุฃู’ูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฏูŽุนูŽุชู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูƒูŽู„ุงูŽู…ู ุญูŽุงุฌูŽุฉูŒ ูŠูŽุฎูŽุงูู ููŽูˆู’ุชูŽู‡ูŽุง ุจูุชูŽุฑู’ูƒูู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ูููŠู‡ู ุชูŽุฑู’ูƒู ุงู„ุฃู’ูŽุฏูŽุจู

Mayoritas ali fiqih berpendapat bahwa berbicara dengan manusia saat wudhu dengan pembicaraan yang tidak diperlukan, adalah perbuatan yang menyelisihi hal yang utama. Jika memang ada keperluan yang membuatnya mesti berbicara, dan khawatir akan kehilangan hajatnya itu karena meninggalkannya, maka hal itu tidak termasuk meninggalkan adab. (Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 35/114)

Imam An Nawawi Rahimahullah menyebutkan sunah-sunah wudhu, di antaranya:

ูˆุฃู† ู„ุง ูŠุชูƒู„ู… ููŠู‡ ู„ุบูŠุฑ ุญุงุฌุฉ

Tidak berbicara tanpa adanya kebutuhan. (Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 1/465)

Maka, berbicara saat wudhu, sama juga meninggalkan salah satu sunah wudhu, walau itu bukan hal terlarang.

Imam An Nawawi juga berkata:

ูˆู‚ุฏ ู†ู‚ู„ ุงู„ู‚ุงุถูŠ ุนูŠุงุถ ููŠ ุดุฑุญ ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู… ุฃู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูƒุฑู‡ูˆุง ุงู„ูƒู„ุงู… ููŠ ุงู„ูˆุถูˆุก ูˆุงู„ุบุณู„ ูˆู‡ุฐุง ุงู„ุฐูŠ ู†ู‚ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ูƒุฑุงู‡ุฉ ู…ุญู…ูˆู„ ุนู„ูŠ ุชุฑูƒ ุงู„ุงูˆู„ู‰ ูˆุงู„ุง ูู„ู… ูŠุซุจุช ููŠู‡ ู†ู‡ู‰ ูู„ุง ูŠุณู…ูŠ ู…ูƒุฑูˆู‡ุง ุงู„ุง ุจู…ุนู†ู‰ ุชุฑูƒ ุงู„ุงูˆู„ู‰

Al Qadhi โ€˜Iyadh telah menukil pada Syarh Shahih Muslim, bahwa para ulama memakruhkan berbicara saat wudhu dan mandi. Pemakruhan ini dimaknai sebagai aktifitas yang meninggalkan perkata yang lebih utama, jika tidak maka belum ada larangan yang shahih dalam masalah ini, maka tidaklah dinamakan makruh kecuali dengan makna meninggalkan hal yang lebih utama. (Ibid, 1/466)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkata:

ุงู„ูƒู„ุงู… ููŠ ุฃุซู†ุงุก ุงู„ูˆุถูˆุก ู„ูŠุณ ุจู…ูƒุฑูˆู‡ ุŒ ู„ูƒู† ููŠ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุฃู†ู‡ ูŠุดุบู„ ุงู„ู…ุชูˆุถุฆ ุ› ู„ุฃู† ุงู„ู…ุชูˆุถุฆ ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู‡ ุนู†ุฏ ุบุณู„ ูˆุฌู‡ู‡ ุฃู† ูŠุณุชุญุถุฑ ุฃู†ู‡ ูŠู…ุชุซู„ ุฃู…ุฑ ุงู„ู„ู‡ ุŒ ูˆุนู†ุฏ ุบุณู„ ูŠุฏูŠู‡ ูˆู…ุณุญ ุฑุฃุณู‡ ูˆุบุณู„ ุฑุฌู„ูŠู‡ ุŒ ูŠุณุชุญุถุฑ ู‡ุฐู‡ ุงู„ู†ูŠุฉ ุŒ ูุฅุฐุง ูƒู„ู…ู‡ ุฃุญุฏ ูˆุชูƒู„ู… ู…ุนู‡ ุŒ ุงู†ู‚ุทุน ู‡ุฐุง ุงู„ุงุณุชุญุถุงุฑ ูˆุฑุจู…ุง ูŠุดูˆุด ุนู„ูŠู‡ ุฃูŠุถุงู‹ ุŒ ูˆุฑุจู…ุง ูŠุญุฏุซ ู„ู‡ ุงู„ูˆุณูˆุงุณ ุจุณุจุจู‡ ุŒ ูุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุฃู„ุง ูŠุชูƒู„ู… ุญุชู‰ ูŠู†ุชู‡ูŠ ู…ู† ุงู„ูˆุถูˆุก ุŒ ู„ูƒู† ู„ูˆ ุชูƒู„ู… ุŒ ูู„ุง ุดูŠุก ุนู„ูŠู‡

Berbicara saat wudhu tidaklah makruh, hal itu pada kenyataannya dapat menyibukkan orang yang berwudhu. Sebab seorang yang sedang berwudhu hendaknya saat dia membasuh wajahnya dia menghadirkan hatinya untuk menjalankan perintah Allah, begitu pula saat dia mencuci tangan, membasuh kepala, dan mencuci kaki, hendaknya dia hadirkan niat tersebut. Jika ada yang berbicara dengannya, maka terputuslah hal itu dan bisa jadi dia juga hatinya terganggu, dan gara-gara itu dia jadi was was. Maka, lebih utama adalah tidak berbicara sampai dia selesai wudhunya. Tapi, jika dia berbicara, itu tidak apa-apa. (Fatawa Nuur ‘Alad Darb, Bab Ath Thaharah No. 326)

Wallahu A’lam

🌷☘🌺🌴🍃🌸🌻🌾

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top