Hukum Membaca dan Meyakini Kisah Israiliyat

💥💦💥💦💥💦

Kisah Israiliyat adalah riwayat atau kisah-kisah yang bersumber/berasal dari Bani Israel, baik sejarah mereka, dan kitab mereka, lalu masuk ke budaya kaum muslimin, baik melalui kitab hadits, tafsir, sejarah, akhlak, yang disusun oleh ulama Islam.

Riwayat Israiliyat ini banyak, sebagian ada yang masyhur, shahih secara sanad, dan ada juga yg dhaif dan palsu.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

ูˆู‚ุฏ ุฐูƒุฑ ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุงู„ู…ูุณุฑูŠู† ู…ู† ุงู„ุณู„ู ูˆุงู„ุฎู„ูุŒ ู‡ุงู‡ู†ุง ู‚ุตุตุง ูˆุฃุฎุจุงุฑุง ุฃูƒุซุฑู‡ุงย ุฅุณุฑุงุฆูŠู„ูŠุงุชุŒ ูˆู…ู†ู‡ุง ู…ุง ู‡ูˆ ู…ูƒุฐูˆุจ ู„ุง ู…ุญุงู„ุฉ

Banyak ahli tafsir baik salaf dan khalaf yang menceritakan kisah-kisah dan khabar yang mayoritas Israiliyat, di antaranya ada yang jelas-jelas dusta.

(Al Bidayah wan Nihayah)

Contoh riwayat-riwayat Israiliyat:

– Kisah katak dan kalelawar yang berdoa agar Allah memadamkan api yang membakar Baitul Maqdis. Sedangkan cicak justru meniupkan agar api tetap nyala dan membesar. Imam Al Baihaqi mengatakan kisah ini shahih, tapi Israiliyat.

– Kisah Juraij, ahli ibadah yang disumpah oleh ibunya karena dia tidak menyahut saat dipanggil ibunya karena dia sedang shalat. Kisah ini Shahih, Bukhari dan Muslim.

– dll

Bagaimanakah menyikapi ini? Bolehkah meyakininya? Jika boleh, dalam batas saja ?

Ada empat sikap:

1. Menolaknya jika jelas-jelas dusta atau palsu

2. Tidak boleh dijadikan rujukan aqidah dan menetapkan halal halal haram, kecuali yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah yg shahih lainnya. Seperti awal mula disyariatkan shaum ‘asyura, karena otang Yahudi berpuasa dalam rangka memperingati hari selamatnya Nabi Musa ‘Alaihissalam dari kejaran musuhnya. Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti Nabi Musa dibanding mereka. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan para sahabat untuk shaum ‘asyura. (HR. Muslim no. 1130)

3. Tidak diambil dan tidak juga menolak, sebagaimana hadits:

ย ุฅูุฐูŽุง ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ููŽู„ูŽุง ุชูุตูŽุฏู‘ูู‚ููˆู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุชููƒูŽุฐู‘ูุจููˆู‡ูู…ู’ ูˆูŽู‚ููˆู„ููˆุง ุขู…ูŽู†ู‘ูŽุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽูƒูุชูุจูู‡ู ูˆูŽุฑูุณูู„ูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุญูŽู‚ู‘ู‹ุง ู„ูŽู…ู’ ุชููƒูŽุฐู‘ูุจููˆู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุจูŽุงุทูู„ู‹ุง ู„ูŽู…ู’ ุชูุตูŽุฏู‘ูู‚ููˆู‡ูู…ู’

“Jika ada Ahli Kitab yang menceritakan kepada kalian, janganah kalian benarkan mereka, juga kalian dustakan mereka. Katakanlah, ‘kami beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya. Jika memang itu benar, maka kalian tidak mendustakannya. Jika memang batil maka kalian tidak membenarkannya mereka.”

(HR. Ahmad no. 16592)

4. Boleh diambil pelajaran dalam urusan akhlak, nasihat, dan mental spiritual, selama kisah tersebut shahih. Seperti kisah Juraij yang isinya mengajarkan tentang ketaatan kepada ibu, dan hati-hati dengan sumpah.

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ูˆูŽุญูŽุฏู‘ูุซููˆุง ุนูŽู†ู’ ุจูŽู†ููŠ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุญูŽุฑูŽุฌูŽ

Dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa-apa.

(HR. Bukhari no. 3461)


Dasarnya adalah dari Abdullah bin Amr, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallambersabda:

ุจูŽู„ู‘ูุบููˆุง ุนูŽู†ู‘ููŠ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุขูŠูŽุฉู‹ ูˆูŽุญูŽุฏู‘ูุซููˆุง ุนูŽู†ู’ ุจูŽู†ููŠ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุญูŽุฑูŽุฌูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุฐูŽุจูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ู…ูุชูŽุนูŽู…ู‘ูุฏู‹ุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุจูŽูˆู‘ูŽุฃู’ ู…ูŽู‚ู’ุนูŽุฏูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

Sampaikan dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah oleh kalian dari Bani Israil, tidak apa-apa. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di neraka. (HR. Bukhari No. 3461, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul โ€˜Ummal No. 29175)

Imam Bukhari memasukkan hadits ini dalam Bab Maa Dzukira โ€˜An Bani Israil โ€“ Apa-apa yang Diceritakan Dari Bani Israil.

Berikut ini pandangan para ulama Islam tentang kebolehan mengutip dari kitabnya kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani).

Imam Ibnu Hajar Al โ€˜Asqalani Rahimahullah berkata:

ุฃูŠ ู„ุง ุถูŠู‚ ุนู„ูŠูƒู… ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุนู†ู‡ู… ู„ุฃู†ู‡ ูƒุงู† ุชู‚ุฏู… ู…ู†ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุงู„ุฒุฌุฑ ุนู† ุงู„ุฃุฎุฐ ุนู†ู‡ู… ูˆุงู„ู†ุธุฑ ููŠ ูƒุชุจู‡ู… ุซู… ุญุตู„ ุงู„ุชูˆุณุน ููŠ ุฐู„ูƒ ูˆูƒุฃู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ูˆู‚ุน ู‚ุจู„ ุงุณุชู‚ุฑุงุฑ ุงู„ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ูˆุงู„ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุฏูŠู†ูŠุฉ ุฎุดูŠุฉ ุงู„ูุชู†ุฉ ุซู… ู„ู…ุง ุฒุงู„ ุงู„ู…ุญุฐูˆุฑ ูˆู‚ุน ุงู„ุฅุฐู† ููŠ ุฐู„ูƒ ู„ู…ุง ููŠ ุณู…ุงุน ุงู„ุฃุฎุจุงุฑ ุงู„ุชูŠ ูƒุงู†ุช ููŠ ุฒู…ุงู†ู‡ู… ู…ู† ุงู„ุงุนุชุจุงุฑ ูˆู‚ูŠู„ ู…ุนู†ู‰ ู‚ูˆู„ู‡ ู„ุง ุญุฑุฌ ู„ุง ุชุถูŠู‚ ุตุฏูˆุฑูƒู… ุจู…ุง ุชุณู…ุนูˆู†ู‡ ุนู†ู‡ู… ู…ู† ุงู„ุฃุนุงุฌูŠุจ ูุฅู† ุฐู„ูƒ ูˆู‚ุน ู„ู‡ู… ูƒุซูŠุฑุง

Yaitu tidaklah sempit bagimu untuk menceritakan dari mereka karena telah berlalu larangan dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam untuk mengambil kisah dari mereka dan hati-hati terhadap kitab-kitab mereka, namun kemudian hal itu diberikan kelapangan untuk menceritakan dari mereka. Larangan itu terjadi sebelum mantapnya hukum-hukum Islam dan kaidah-kaidah agama, dan khawatir adanya fitnah. Lalu ketika hal yang demikian telah berlalu, maka diberikanlah izin untuk mendengarkan kabar-kabar yang pernah terjadi pada zaman mereka dahulu yang memiliki iโ€™tibar (pelajaran). Dikatakan juga makna sabdanya โ€œtidak apa-apaโ€ adalah tidak menyempitkan dadamu jika kamu mendengarkannya dari mereka berupa keajaiban-keajaiban mereka, sebab hal itu memang banyak terjadi pada mereka. (Fathul Bari, 6/498. Darul Maโ€™rifah)

Syaikh Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri Rahimahullahmengatakan:

ู‚ุงู„ ุงู„ุณูŠุฏ ุฌู…ุงู„ ุงู„ุฏูŠู† ูˆูˆุฌู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ุจูŠู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุงู„ุงุดุชุบุงู„ ุจู…ุง ุฌุงุก ุนู†ู‡ู… ูˆุจูŠู† ุงู„ุชุฑุฎูŠุต ุงู„ู…ูู‡ูˆู… ู…ู† ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฃู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจุงู„ุชุญุฏุซ ู‡ุง ู‡ู†ุง ุงู„ุชุญุฏุซ ุจุงู„ู‚ุตุต ู…ู† ุงู„ุขูŠุงุช ุงู„ุนุฌูŠุจุฉ ูƒุญูƒุงูŠุฉ ุนูˆุฌ ุจู† ุนู†ู‚ ูˆู‚ุชู„ ุจู†ูŠ ุฅุณุฑุงุฆูŠู„ ุฃู†ูุณู‡ู… ููŠ ุชูˆุจุชู‡ู… ู…ู† ุนุจุงุฏุฉ ุงู„ุนุฌู„ ูˆุชูุตูŠู„ ุงู„ู‚ุตุต ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑุฉ ููŠ ุงู„ู‚ุฑุขู† ู„ุฃู† ููŠ ุฐู„ูƒ ุนุจุฑุฉ ูˆู…ูˆุนุธุฉ ู„ุฃูˆู„ูŠ ุงู„ุฃู„ุจุงุจ ูˆุฃู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจุงู„ู†ู‡ูŠ ู‡ู†ุงูƒ ุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ู†ู‚ู„ ุฃุญูƒุงู… ูƒุชุจู‡ู… ู„ุฃู† ุฌู…ูŠุน ุงู„ุดุฑุงุฆุน ูˆุงู„ุฃุฏูŠุงู† ู…ู†ุณูˆุฎุฉ ุจุดุฑูŠุนุฉ ู†ุจูŠู†ุง ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุงู†ุชู‡ู‰

Berkata As Sayyid Jamaluddin dengan mengkompromikan antara larangan menyibukkan diri dengan riwayat dari mereka dan yang memberikan keringanan untuk itu, bahwa hadits ini bisa dipahami maksud dari menceritakan di sini adalah menceritakan (mengutip) kisah-kisah dari ayat-ayat yang mengagumkan seperti kisah โ€˜Auj bin โ€˜Unuq, kisah bunuh dirinya Bani Israil dalam rangka pertobatan dari peribadatan mereka terhadap Sapi (Al โ€˜ijl), dan rincian kisah-kisah yang juga disebutkan dalam Al Quran, karena yang demikian itu terdapat โ€˜ibrah (pelajaran) bagi Ulil Albab. Ada pun larangan di sini adalah larangan menukil hukum-hukum yang ada pada kitab mereka, karena semua syariat dan agama telah dihapus (mansukh) oleh syariat Nabi kita Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Selesai. (Tuhfah Al Ahwadzi, 7/360. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

ูˆู‚ุงู„ ููŠ ุญุฏูŠุซ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนู…ุฑูˆ: ุญุฏุซูˆุง ุนู† ุจู†ูŠ ุฅุณุฑุงุฆูŠู„ ูˆู„ุง ุญุฑุฌ ุจู†ูˆ ุฅุณุฑุงุฆูŠู„ ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ูˆุงู„ู†ุตุงุฑู‰ ุฅุฐุง ู‚ุงู„ูˆุง ู‚ูˆู„ุง ูุญุฏุซ ุนู†ู‡ู… ูˆู„ุง ุญุฑุฌ ุนู„ูŠูƒ ุจุดุฑุท ุฃู† ู„ุง ุชุนู„ู… ุฃู†ู‡ ู…ุฎุงู„ู ู„ู„ุดุฑูŠุนุฉ ู„ุฃู† ุจู†ูŠ ุฅุณุฑุงุฆูŠู„ ุนู†ุฏู‡ู… ูƒุฐุจ ูŠุญุฑููˆู† ุงู„ูƒู„ู… ุนู† ู…ูˆุงุถุนู‡ ูˆูŠูƒุฐุจูˆู† ูุฅุฐุง ุฃุฎุจุฑูˆูƒ ุจุฎูŠุฑ ูู„ุง ุจุฃุณ ุฃู† ุชุญุฏุซ ุจู‡ ุจุดุฑุท ุฃู† ู„ุง ูŠูƒูˆู† ู…ุฎุงู„ูุง ู„ู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุดุฑูŠุนุฉ

ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุฅู† ูƒุงู† ู…ุฎุงู„ูุง ู„ู‡ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠุญุฏุซ ุฅู„ุง ุฅุฐุง ุญุฏุซ ุจู‡ ู„ูŠุจูŠู† ุฃู†ู‡ ุจุงุทู„ ูู„ุง ุญุฑุฌ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… .

Nabi bersabda dalam hadits Abdullah bin Amr: โ€œCeritakanlah dari Bani Israil, tidak apa-apa.โ€ Bani Israil, baik Yahudi dan Nasrani, jika mereka mengatakan sebuah perkataan maka kutiplah dari mereka, tidak apa-apa atasmu, dengan syarat tidak diketahui bahwa itu bertentangan dengan syariat, karena Bani Israil memiliki kebohongan berupa merubah kata-kata dari tempatnya dan mereka berdusta. Jika mereka mengabarkan kepadamu yang baik-baik maka tidak apa-apa menceritakannya dengan syarat tidak bertentangan dengan syariat Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Jika bertentangan, maka tidak boleh mengutipnya, kecuali jika mengutipnya untuk menjelaskan kebatilannya, maka itu tidak apa-apa. (Syaikh Utsaimin, Syarh Riyadhush Shalihin, Hal. 1583. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

Imam Ibnul Atsir Rahimahullah mengatakan:

ูู…ุนู’ู†ูŽู‰ ู‚ูˆู„ู‡ : ุญูŽุฏู‘ุซูˆุง ุนู† ุจู†ูŠ ุงุณุฑุงุฆูŠู„ ูˆู„ุง ุญุฑูŽุฌ : ุฃูŠ ู„ุง ุจูŽุฃุณูŽ ูˆู„ุง ุฅุซู’ู… ุนู„ูŠูƒู… ุฃู† ุชูุญูŽุฏู‘ุซููˆุง ุนูŽู†ู’ู‡ู… ู…ุง ุณูŽู…ูุนู’ุชู…

Makna sabdanya: (dan ceritakanlah oleh kalian dari Bani Israil, tidak apa-apa) yaitu tidak apa-apa dan tidak berdosa atasmu menceritakan dari mereka tentang apa yang kamu dengar. (An Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, 1/928)

Imam Abu Jaโ€™far Ath Thahawi Rahimahullah mengatakan:

ู‚ูˆู„ู‡ ู„ุฃู…ุชู‡ ูˆุญุฏุซูˆุง ุนู† ุจู†ูŠ ุฅุณุฑุงุฆูŠู„ ูˆู„ุง ุญุฑุฌ ููƒุงู† ุฐู„ูƒ ุนู†ุฏู†ุง ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุฅุฑุงุฏุฉ ู…ู†ู‡ ุฃู† ูŠุนู„ู…ูˆุง ู…ุง ูƒุงู† ููŠู‡ู… ู…ู† ุงู„ุนุฌุงุฆุจ ุงู„ุชูŠ ูƒุงู†ุช ููŠู‡ู… ูˆู„ุฃู† ุฃู…ูˆุฑู‡ู… ูƒุงู†ุช ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก ุชุณูˆุณู‡ุง ูƒู…ุง

Sabdanya kepada umatnya: dan ceritakanlah oleh kalian dari Bani Israil, tidak apa-apa,menurut kami maknanya adalah โ€“wallahu aโ€™lam- hendaknya mereka mengetahui apa yang terjadi pada mereka (Bani Israil), berupa keistimewaan-keistimewaan yang ada pada mereka karena mereka dahulu pernah dibimbing para nabi. (Bayan Musykil Al Atsar, 1/73)

Syaikh Abdul Muhsin Hamd Al โ€˜Abbad Al Badr Hafizhahullah menjelaskan:

ูŠุนู†ูŠ: ุฃู† ูŠุชุญุฏุซ ุจุฃุญุงุฏูŠุซู‡ู… ูˆุงู„ุฃุดูŠุงุก ุงู„ุชูŠ ุชุคุซุฑ ุนู†ู‡ู… ูˆุชู†ู‚ู„ ุนู†ู‡ู…ุŒ ูˆุฃู† ู…ุซู„ ุฐู„ูƒ ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡ุŒ ู„ูƒู† ู‡ุฐุง ูƒู…ุง ู‡ูˆ ู…ุนู„ูˆู… ุฅุฐุง ูƒุงู† ููŠ ุฃู…ูˆุฑ ู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ุจุงุทู„ุ› ู„ุฃู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ุจุงู„ุจุงุทู„ ูˆู†ุดุฑ ุงู„ุจุงุทู„ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ

Yakni menceritakan dengan perkataan-perkataan mereka dan segala hal yang di-atsarkan dari mereka dan mengutip dari mereka, sesungguhnya yang seperti itu tidak apa-apa, tetapi sebagaimana diketahui hal itu jika dalam perkara yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya. Sebab perkataan dengan kebatilan dan menyebarkan kebatilan tidak diperbolehkan. (Syarh Sunan Abi Daud, 19/306)

Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

ูุงู„ู…ุนู†ู‰ ูˆุงุญุฏ ูˆู‡ูˆ: ุฃู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ู„ู„ู…ุณู„ู… ุฃู† ูŠู†ู‚ู„ ูƒู„ุงู…ู‡ู… ูˆุฃุฎุจุงุฑู‡ู… ุงู„ู…ูˆุฌูˆุฏุฉ ููŠ ูƒุชุจู‡ู… ุฏูˆู† ุชู‚ูŠุฏ ุจุงู„ุจุญุซ ุนู† ุตุญุฉ ุงู„ุฅุณู†ุงุฏุŒ ุจู„ ุชุญูƒู‰ ุฃุฎุจุงุฑู‡ู… ูƒู…ุง ู‡ูŠ ู„ู„ุนุจุฑุฉ ูˆุงู„ุงุชุนุงุธุŒ ุฅู„ุง ู…ุง ุนู„ู… ุฃู†ู‡ ูƒุฐุจ

Maknanya adalah satu, yaitu boleh saja bagi seorang muslim menukil perkataan mereka (ahli kitab) dan kabar tentang mereka yang terdapat dalam kitab-kitab mereka tanpa terikat dengan upaya pencarian kebenaran sanadnya, bahkan menceritakan berita-berita mereka menjadikannya sebagaimana halnya sebagai ibrah dan mauโ€™izhah, kecuali jika diketahui bahwa berita itu adalah dusta. (Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah, Fatwa No. 9067)

Beliau juga mengatakan:

ูู…ุง ุฑูˆุฏ ุฅู„ูŠู†ุง ู…ู† ุฃุฎุจุงุฑ ุฃู‡ู„ ุงู„ูƒุชุงุจ ูŠู‚ุณู…ู‡ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฅู„ู‰ ุซู„ุงุซุฉ ุฃู‚ุณุงู…:-
ุงู„ุฃูˆู„ : ู…ุง ูŠูˆุงูู‚ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูู‡ุฐุง ู†ุตุฏู‚ู‡ ูˆู†ุญุฏุซ ุจู‡.
ุงู„ุซุงู†ูŠ : ู…ุง ูŠูƒุฐุจู‡ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูู‡ุฐุง ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู†ุง ุชูƒุฐูŠุจู‡.
ุงู„ุซุงู„ุซ : ุฃุฎุจุงุฑ ู„ู… ูŠูƒุฐุจู‡ุง ุงู„ู‚ุฑุขู† ูˆู„ู… ูŠุตุฏู‚ู‡ุงุŒ ูู‡ุฐู‡ ู†ุญุฏุซ ุจู‡ุง ุนู„ู‰ ุฌู‡ุฉ ุงู„ุงุณุชุฆู†ุงุณ ุจู‡ุงุŒ ู…ุน ุนุฏู… ุชุตุฏูŠู‚ู‡ุง ุฃูˆ ุชูƒุฐูŠุจู‡ุง. ุจู„ ู†ู‚ูˆู„: ุขู…ู†ุง ุจุงู„ุฐูŠ ุฃู†ุฒู„ ุฅู„ูŠู†ุง ูˆุฃู†ุฒู„ ุฅู„ูŠูƒู….
ูˆูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ู‚ูˆู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… “ูˆุญุฏุซูˆุง ุนู† ุจู†ูŠ ุฅุณุฑุงุฆูŠู„ ูˆู„ุง ุญุฑุฌ” ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆุบูŠุฑู‡. ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู….

Apa saja yang sampai kepada kita berupa kisah dan berita yang berasal dari Ahli kitab, para ulama membaginya menjadi tiga bagian:

Pertama, yang sesuai dengan Al Quran maka ini kita membenarkannya dan berbicara dengannya pula.

Kedua, yang diingkari oleh Al Quran maka kita wajib mengingkarinya juga.

Ketiga, kabar yang tidak diingkari Al Quran dan tidak pula dibenarkannya. Maka, kita membicarakannya dengan welcome, sembari tidak membenarkannya dan tidak pula mendustakannya. Bahkan kita katakan: โ€œKami beriman wahyu dengan yang diturunkan kepada kami dan kalian.โ€

Dalilnya adalah sabda Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œCeritakanlah oleh kalian dari bani Israil, tidak apa-apa.โ€ Riwayat Bukhari dan lainnya. Wallahu Aโ€™lam. (Ibid, Fatwa No. 16467)

Dan masih banyak perkataan ulama lainnya yang serupa dengan ini. So, tidak mengapa jika sekedar kisah-kisah untuk pelajaran dan hikmah saja, ada pun berkaitan tentang aqidah dan syariah, maka tidak boleh dari mereka kecuali yang dibenarkan oleh Al Quran dan As Sunnah.

Wallahu A’lam

🌷☘🌺🌴🌻🍃🌸🌾

✏ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top