Hukum Penderita Stoma Menjadi Imam Shalat

💢💢💢💢💢💢💢

Bismillahirrahmanirrahim ..

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmatNya kepada kita semua ..

Bagi penderita anus buatan di perut (Stoma), tentu tidak sama hukumnya dgn orang yang normal dan wajar. Orang yg normal akan mampu mengontrol BAB dan BAK-nya. Rasa mulas bisa mereka rasakan, shgga mereka bisa mengatur keluarnya feses (kotoran).

Ada pun bagi penderita Stoma, kotoran tersebut keluar begitu saja melalui lubang anus buatan di perutnya, di luar kontrolnya. Ini tentunya keadaan tidak biasa dan menyuling.

Disisi lain, shalat adalah kewajiban atas muslim mukallaf mana pun selama akalnya masih berjalan dengan baik. Artinya, keadaan Stoma bukanlah keringanan meninggalkan shalat. Sedangkan sahnya shalat, mensyaratkan suci dari berbagai najis.

Lalu, bagaimana dgn kotorannya?

Itu adalah kondisi masyaqqah (kesulitan) bagi dia. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman:

ููŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุทูŽุนู’ุชูู…ู’

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu

(QS. At-Taghabun, Ayat 16)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชููƒูู…ู’ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ููŽุฃู’ุชููˆุง ู…ูู†ู’ู‡ู ู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุทูŽุนู’ุชูู…ู’

Maka, jika aku memerintahkan kamu terhadap sesuatu, jalankanlah sejauh yang kalian mampu.

(HR. Muslim no. 1337)

Sementara itu, dalam kaidah fiqih disebutkan:

ุงู„ู’ู…ูŽุดูŽู‚ู‘ูŽุฉู ุชูŽุฌู’ู„ูุจู ุงู„ุชู‘ูŽูŠู’ุณููŠุฑูŽ

Kesulitan itu menarik kemudahan. (Imam Ibnu Nujaim,ย Al Asybah wan Nazhair, Hal. 75)

Atau seperti yang dikatakan Imam Tajuddin As Subki:

ุงู„ู…ุดู‚ุฉ ู†ุฌู„ุจ ุงู„ุชูŠุณูŠุฑ ูˆุฅู† ุดุฆุช ู‚ู„ุช : ุฅุฐุง ุถุงู‚ ุงู„ุฃู…ุฑ ุงุชุณุน

Kesulitan membawa pada kemudahan, dan jika anda mau, anda bisa katakan: jika keadaan sempit maka membawa kelapangan. (Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, 1/61)

Maka, kondisi yang ditanyakan saudara penanya yaitu adanya najis yang bisa keluar tanpa disadari termasuk saat shalat, mirip seperti orang yang keluarnya beser yg tdk bisa dikontrol, atau orang yang luka terus menerus, atau seperti wanita yang darah istihadhah keluar terus menerus, dia mengalami kesulitan yang digambarkan oleh kaidah-kaidah di atas, maka shalatnya tetap SAH.

Dalilnya adalah, terdapat dalam Shahih Bukhari di ceritakan oleh Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah:

๏ปฃูŽ๏บŽ ๏บฏูŽ๏บ๏ปูŽ ๏บ๏ปŸู’๏ปคู๏บดู’๏ป ู๏ปคู๏ปฎ๏ปฅูŽ ๏ปณู๏บผูŽ๏ป ู‘ู๏ปฎ๏ปฅูŽ ๏ป“ู๏ปฐ ๏บŸู๏บฎูŽ๏บ๏บฃูŽ๏บŽ๏บ—ู๏ปฌู๏ปขู’

Kaum muslimin senantiasa shalat dalam keadaan mereka terluka.

Riwayat lain:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’
ุฌูŽุงุกูŽุชู’ ููŽุงุทูู…ูŽุฉู ุจูู†ู’ุชู ุฃูŽุจููŠ ุญูุจูŽูŠู’ุดู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ููŠ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉูŒ ุฃูุณู’ุชูŽุญูŽุงุถู ููŽู„ูŽุง ุฃูŽุทู’ู‡ูุฑู ุฃูŽููŽุฃูŽุฏูŽุนู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽุง ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฐูŽู„ููƒู ุนูุฑู’ู‚ูŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูุงู„ู’ุญูŽูŠู’ุถูŽุฉู ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽู‚ู’ุจูŽู„ูŽุชู’ ุงู„ู’ุญูŽูŠู’ุถูŽุฉู ููŽุฏูŽุนููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฏู’ุจูŽุฑูŽุชู’ ููŽุงุบู’ุณูู„ููŠ ุนูŽู†ู’ูƒู ุงู„ุฏู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุตูŽู„ู‘ููŠ

Dari Aisyah dia berkata; โ€˜Fathimah binti Abi Hubaisy datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; ‘Wahai Rasulullah, aku adalah wanita yang mengeluarkan darah istihadhah, hingga diriku tidak suci, apakah aku harus meninggalkan shalat?โ€™ Beliau bersabda: “Itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haidh, apabila darah haid datang, tinggalkanlah shalat. Apabila darah haid telah berlalu, bersihkanlah darah tersebut dari dirimu kemudian shalatlah.”

(HR. Muslim no. 333)

Dua riwayat ini menunjukkan wanita yg selalu keluar darah istihadhah-nya tetap wajib shalat. Padahal darah itu mengalir dan najis. Ini menunjukkan “kondisi khusus” yang dimaafkan.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

ูˆุญูƒู… ุณู„ุณ ุงู„ุจูˆู„ ูˆุงู„ู…ุฐูŠ ูˆู…ู† ุจู‡ ุญุฏุซ ุฏุงุฆู… ูˆุฌุฑุญ ุณุงุฆู„ ุญูƒู… ุงู„ู…ุณุชุญุงุถุฉ ุนู„ู‰ ู…ุง ุณุจู‚

Hukum bagi orang yang beser, dan mudah keluar madzi, dan orang yang selalu berhadats, dan darah luka yang mengalir, adalah sama hukumnya dengan wanita yang istihadhah sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/516)

📚 Kesimpulannya:

1. Sebelum shalat bersih-bersih dulu termasuk anus buatan tersebut. Lalu wudhu selayaknya ingin shalat, jika sudah masuk waktu shalat. Ada pun jika wudhunya sebelum masuk waktu shalat, lalu dia keluar najis sebelum shalat maka ini batal, mesti ulangi wudhunya.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

ูุฅู† ุชูˆุถุฃ ุฃุญุฏ ู‡ุคู„ุงุก ู‚ุจู„ ุงู„ูˆู‚ุชุŒ ูˆุฎุฑุฌ ู…ู†ู‡ ุดูŠุกุŒ ุจุทู„ุช ุทู‡ุงุฑุชู‡

Jika salah seorang mereka (orang yg disebut di atas) berwudhu sebelum waktunya, lalu keluar najis, maka batal thaharahnya. (Al Mughni, 1/248)

Inilah pendapat mayoritas ulama.

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhullah mengatakan:

ูุฅู† ุงู„ุฐูŠ ุนู„ูŠู‡ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุฃู† ุตุงุญุจ ุงู„ุณู„ุณ ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ูˆุถูˆุก ู„ูƒู„ ุตู„ุงุฉ ุจุนุฏ ุฏุฎูˆู„ ูˆู‚ุชู‡ุงุŒ ูˆู„ุง ูŠุฌุฒุฆู‡ ุฃู† ูŠุชูˆุถุฃ ู„ุตู„ุงุฉ ู‚ุจู„ ุฏุฎูˆู„ ูˆู‚ุชู‡ุงุŒ ูˆูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุฅุฐุง ุฃุฑุงุฏ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฃู† ูŠุบูŠุฑ ู…ู„ุงุจุณู‡ ุงู„ู…ุตุงุจุฉ ุจุงู„ู†ุฌุณ ุฃูˆ ูŠุทู‡ุฑู‡ุง ุฅู† ุฃู…ูƒู† ุฐู„ูƒ ูˆูŠุบุณู„ ุงู„ู…ุญู„ ุฌูŠุฏุงู‹

Sesungguhnya yang dianut oleh mayoritas fuqaha adalah bahwa penderita beser wajib wudhu pada setiap shalat setelah masuk waktunya, tidak sah jika dia berwudhu sebelum masuk waktunya. Dan, wajib baginya jika hendak shalat mengganti pakaiannya yg kena najis atau hendaknya dia sucikan sejauh kemampuannya dan dia cuci yg kotor itu sebaik-baiknya.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 108086)

2. Jika kondisi sulit, atau ketika shalat, tapi keluar najis tersebut tanpa disadarinya, maka itu ketidakberdayaan yang dimaafkan dan tidak bisa dihindarkan, dan shalatnya tetap sah.

3. Sah bagi dirinya, maka apakah sah pula saat dia menjadi imam bagi orang lain yang normal?

Ada dua pendapat ulama:

▪ Tidak boleh, tidak sah, menurut Hanafiyah dan Hambaliyah, sebab yang mengalami darurat hanya si imam, sdgkan makmum tidak. Sedangkan darurat diaplikasikan sesuai kebutuhan daruratnya.

▪ Sah dan boleh, menurut Syafi’iyyah dan Malikiyah, sebab udzur yang membuat SAH bagi imam maka itu juga SAH bagi makmum. Hanya saja Malikiyah menyatakan makruh walau sah. (Lihat Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 25/187. Juga Al Majmu’, 4/160)

Sebaiknya, untuk menghilangkan keraguan atas was was dia bisa meminta orang lain saja, yg sehat dan normal untuk menjadi imam.

Wa Shalallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top