Kaidah Fiqh: Keadaan Darurat Membuat Hal Terlarang Menjadi Boleh

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Kaidahnya berbunyi:

ุงู„ุถุฑูˆุฑุงุช ุชุจูŠุญ ุงู„ู…ุญุธูˆุฑุงุช

Keadaan darurat membuat hal yang terlarang menjadi boleh. (Al Mantsur fil Qawaid Al Fiqhiyah, 2/317, Imam Ibnu Nujaim, Al Asybah wan Nazhair, hal. 73)

Disebut darurat jika keadaan memang sudah mengancam sendi kehidupan manusia, seperti agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

Dalil kaidah ini adalah:

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุญูŽุฑู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠู’ุชูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ุฏู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู„ูŽุญู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุฎูู†ู’ุฒููŠุฑู ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูู‡ูู„ู‘ูŽ ุจูู‡ู ู„ูุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู…ูŽู†ู ุงุถู’ุทูุฑู‘ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุจูŽุงุบู ูˆูŽู„ูŽุง ุนูŽุงุฏู ููŽู„ูŽุง ุฅูุซู’ู…ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Baqarah: 173)

Juga dalam hadits, dari Abu Dzar Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุชูŽุฌูŽุงูˆูŽุฒูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠ ุงู„ู’ุฎูŽุทูŽุฃูŽุŒ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูุณู’ูŠูŽุงู†ูŽุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ุงุณู’ุชููƒู’ุฑูู‡ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู

Sesungguhnya Allah melewatkan saja dari umatku: kesalahan tidak sengaja, lupa, dan perbuatan yang disebabkan terpaksa. (HR. Ibnu Majah No. 2043, 2045, Ath Thahawi, Syarh Maโ€™ani Al Aatsar No. 4649, Ath Thabarani, Al Muโ€™jam Al Awsath No. 2137, juga daam Ash Shaghir No. 765, 11274, Ad Darquthni No. 4351, Al Hakim No. 2801, katanya: shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, dan Imam Adz Dzahabi mensepakatinya. Dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban, Syaikh Al Albani, dan lainnya)

Imam Ibnu An Najar Rahimahullah berkata:

ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุง ุฃูุดููŠุฑูŽ ุฅู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู “ูˆูŽุฅูุจูŽุงุญูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุญู’ุธููˆุฑู” ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ูˆูุฌููˆุฏูŽ ุงู„ุถู‘ูŽุฑูŽุฑู ูŠูุจููŠุญู ุงุฑู’ุชููƒูŽุงุจูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุญู’ุธููˆุฑูุŒ ุฃูŽูŠู’ ุงู„ู’ู…ูุญูŽุฑู‘ูŽู…ูุŒ ุจูุดูŽุฑู’ุทู ูƒูŽูˆู’ู†ู ุงุฑู’ุชููƒูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูŽุญู’ุธููˆุฑู ุฃูŽุฎูŽูู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ูˆูุฌููˆุฏู ุงู„ุถู‘ูŽุฑูŽุฑูุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุซูŽู…ู‘ูŽ ุฌูŽุงุฒูŽ – ุจูŽู„ู’ ูˆูŽุฌูŽุจูŽ – ุฃูŽูƒู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠู’ุชูŽุฉู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฎู’ู…ูŽุตูŽุฉู ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฅุณูŽุงุบูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ูู‚ู’ู…ูŽุฉู ุจูุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุฑู ูˆูŽุจูุงู„ู’ุจูŽูˆู’ู„ู

Ini seperti yang aku isyaratkan dengan perkataannya โ€œdibolehkannya hal yang terlarangโ€ yakni bahwa adanya keadaan yang mencelakakan membuat bolehnya menjalankan hal yang terlarang, yaitu hal yang diharamkan, dengan syarat bahwa melakukan hal terlarang itu lebih ringan dibanding mudharatnya, dari sinilah dibolehkannya โ€“bahkan wajib- memakan bangkai ketika sangat kelaparan, begitu pula diizinkan dengan meminum khamr dan air kencing. (Mukhtashar At Tahrir, 4/444)

Imam An Nawawi Rahimahullah memberikan penjelasan sebagai berikut:

ููŽู‡ููˆูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฅูุทู’ู„ูŽุงู‚ู‡ ุŒ ููŽุฅูู†ู’ ูˆูŽุฌูŽุฏูŽ ุนูุฐู’ุฑ ูŠูุจููŠุญู‡ู ูƒูŽุฃูŽูƒู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠู’ุชูŽุฉ ุนูู†ู’ุฏ ุงู„ุถู‘ูŽุฑููˆุฑูŽุฉ ุŒ ุฃูŽูˆู’ ุดูุฑู’ุจ ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุฑ ุนูู†ู’ุฏ ุงู„ู’ุฅููƒู’ุฑูŽุงู‡ ุŒ ุฃูŽูˆู’ ุงู„ุชู‘ูŽู„ูŽูู‘ูุธ ุจููƒูŽู„ูู…ูŽุฉู ุงู„ู’ูƒููู’ุฑ ุฅูุฐูŽุง ุฃููƒู’ุฑูู‡ูŽ ุŒ ูˆูŽู†ูŽุญู’ูˆ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ููŽู‡ูŽุฐูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูŽู†ู’ู‡ููŠู‘ู‹ุง ุนูŽู†ู’ู‡ู ูููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุงู„ . ูˆูŽุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…

โ€œLarangan berlaku secara mutlak (umum), lalu jika mendapatkan adanya uzur maka larangan itu menjadi dibolehkan seperti makan bangkai ketika keadaan darurat, atau minum khamr ketika terpaksa, atau mengucapkan kalimat yang kufur jika dipaksa, dan yang semisalnya. Maka, hal ini tidaklah termasuk yang dilarang dalam keadaan seperti itu. Wallahu Aโ€™lamโ€ (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 4/499. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

📚 Penerapan kaidah ini adalah:

– Dibolehkannya berobat dengan zat yang diharamkan, jika memang dia terancam nyawanya, dan tidak ada alternatif lain kecuali zat tersebut, sesuai rekomendasi dokter bukan karena hawa nafsu, kecerobohan, dan akal-akalan semata.

– Dibolehkannya meminta-minta, jikalau memang itulah satu-satunya cara dia memperoleh makanan, sementara dia tidak punya uang, tidak ada makanan, da tidak ada cara lain, sementara dirinya dan keluarga kelaparan, dan tetangga pun tidak ada yang peduli. Bukan karena meminta-minta yang didasari kemalasan bekerja, sehingga menjadi profesi yang tidak terhormat bagi seorang yang muslim berakal dan merdeka.

– Dibolehkannya aborsi jika memang keadaan bayi mengancam kehidupan ibunya, dan kehidupan si ibu lebih layak dijaga dibanding kehidupan bayi yang masih belum pasti.

– Dibolehkannya bagi wanita/laki-laki menampakkan aurat untuk pengobatan, jika memang tidak ada dokter lain kecuali lawan jenisnya itu. Selama masih bisa diusahakan sesama jenis, maka sebaiknya jangan mau kalah dulu dengan keadaan, kecuali memang begitu sulitnya.

– Dll

Keadaan darurat ini tidaklah dilakukan melampaui batas, sebab Allah Taโ€™ala berfirman: wa laa โ€˜aadin ยฌ (dan tidaklah melampaui batas). Oleh karena itu ada kaidah yang menjadi turunan atau cabang kaidah ini, yaitu: Adh Dharurah yaqtashiru โ€˜ala qadriha โ€“ Darurat itu dibatasi oleh kebutuhan daruratnya.

Jika memakan segenggam daging bangkai sudah cukup untuk menyelamatkan nyawanya, maka itu sudah mencukupinya, tidak boleh melebihinya. Jika meminum seteguk khamr sudah cukup menyelematkannya dari bahaya kehausan, maka tidak boleh melebihinya, dan seterusnya.

Wallahu A’lam

☘🌸🌺🌴🌻🌾🌷🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top