Khitbah (Melamar/Meminang) (Bag. Terakhir)

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

🔟 Mengambil Kembali Hadiah/Seserahan

Dalam tradisi khitbah di tanah air, biasanya pihak laki-laki membawa barang-barang hadiah untuk pihak wanita. Ada yang membawanya saat khitbah, ada pula saat akad nikah. Ini luwes saja. Dalam kitab-kitab fiqih ini juga dibahas dan hal yang baik.

Lalu, bagaimana jika khitbah dibatalkan, apakah hadiah atay seserahan tersebut diambil lagi atau sudah milik pihak wanita?

Harta yang sudah kita hibahkan, sedekah, waqaf, dan semisalnya, tidak boleh diambil lagi.

Hal ini berdasarkan riwayat berikut, dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ู’ุนูŽุงุฆูุฏู ูููŠ ู‡ูุจูŽุชูู‡ู ูƒูŽุงู„ู’ูƒูŽู„ู’ุจู ูŠูŽุนููˆุฏู ูููŠ ู‚ูŽูŠู’ุฆูู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ู…ูŽุซูŽู„ู ุงู„ุณู‘ููˆุกู

“Orang yang mengambil kembali pemberiannya, bagaikan anjing yang menjilat muntahnya sendiri, kami tidak memiliki sebuah perumpamaan yang buruk semisal ini “. (HR. Al Bukhari No. 2589, 6975, Muslim No. 1622)

Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah berkata:

ูˆู„ุนู„ ู‡ุฐุง ุฃุจู„ุบ ููŠ ุงู„ุฒุฌุฑ ุนู† ุฐู„ูƒ ูˆุฃุฏู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุญุฑูŠู…

Dan bisa jadi ini peringatan yang paling keras tentang masalah ini, dan menunjukkan keharamannya. (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/435)

Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Berkata Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah:

ููŠู‡ ุฏู„ุงู„ุฉ ุนู„ู‰ ุชุญุฑูŠู… ุงู„ุฑุฌูˆุน ููŠ ุงู„ู‡ุจุฉ ูˆู‡ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ุฌู…ุงู‡ูŠุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก

Pada hadits ini terdapat dalil keharaman mengambil lagi pemberian. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. (Subulus Salam, 3/90)

Demikianlah secara umum, namun ada pengecualian, yaitu dibolehkan mengambil kembali pemberian jika pemberian orang tua ke anaknya. Misal anak diberikan HP, tp HP itu membuatnya lupa shalat dan belajar, maka tidak apa-apa diambil lagi sebagai hukuman dan pendidikan bagi anak.

Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ู„ุง ูŠุญู„ ู„ุฃุญุฏ ุฃู† ูŠุนุทูŠ ุนุทูŠุฉ ููŠุฑุฌุน ููŠู‡ุง ุฅู„ุง ุงู„ูˆุงู„ุฏ ููŠู…ุง ูŠุนุทูŠ ูˆู„ุฏู‡

Tidak halal bagi seseorang memberi suatu pemberian lalu dia ambil kembali, kecuali orangtua, dia boleh mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada anaknya”. (HR. At Tirmidzi No. 1298. Hadits ini shahih)

Imam At Tirmidzi Rahimahullah berkomentar:

ูˆุงู„ุนู„ู… ุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ุนู†ุฏ ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ู…ู† ุจุนุถ ุฃุตุญุงุจ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ูˆุบูŠุฑู‡ู… ู‚ุงู„ูˆุง ู…ู† ูˆู‡ุจ ู‡ุจุฉ ู„ุฐูŠ ุฑุญู… ู…ุญุฑู… ูู„ูŠุณ ู„ู‡ ุฃู† ูŠุฑุฌุน ููŠู‡ุง ูˆู…ู† ูˆู‡ุจ ู‡ุจุฉ ู„ุบูŠุฑ ุฐูŠ ุฑุญู… ู…ุญุฑู… ูู„ู‡ ุฃู† ูŠุฑุฌุน ููŠู‡ุง ู…ุง ู„ู… ูŠุซุจ ู…ู†ู‡ุง ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุงู„ุซูˆุฑูŠ ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ู„ุง ูŠุญู„ ู„ุฃุญุฏ ุฃู† ูŠุนุทูŠ ุนุทูŠุฉ ููŠุฑุฌุน ููŠู‡ุง ุฅู„ุง ุงู„ูˆุงู„ุฏ ููŠู…ุง ูŠุนุทูŠ ูˆู„ุฏู‡ ูˆุงุญุชุฌ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุจุญุฏูŠุซ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนู…ุฑูˆ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ู‚ุงู„ ู„ุง ูŠุญู„ ู„ุฃุญุฏ ุฃู† ูŠุนุทูŠ ุนุทูŠุฉ ููŠุฑุฌุน ููŠู‡ุง ุฅู„ุง ุงู„ูˆุงู„ุฏ ููŠู…ุง ูŠุนุทูŠ ูˆู„ุฏู‡

Sebagian ulama dari sahabat nabi dan yang lainnya mempraktekkan hadits ini. Mereka berkata, “Seseorang yang memberi suatu pemberian kepada kerabat mahramnya (orang yg haram menikah dengannya), dia boleh mengambil kembali pemberian tersebut, sementara orang yang memberi suatu pemberian kepada orang lain yang bukan mahramnya, maka dia tidak boleh mengambil kembali pemberian tersebut. Demikian ini jugaย  pendapat Ats-Tsauri. Asy Syafi’i berkata, “Tidak halal bagi seseorang yang memberi suatu pemberian. lalu mengambilnya kembali. kecuali orangtua, dia boleh mengambil apa yang telah diberikan kepada anaknya.” Asy Syafi’i berdalih dengan hadits Abdullah bin Umar, dari Nabiย  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamย  beliau bersabda:ย  “Tidak halal bagi seseorang memberikan snatu pemberian lalu mengambilnya kembali, kecuali orangtua”. Dia boleh mengambil kembali apayang telah diberikan kepada anaknya. (Sunan At Tirmidzi No. 1299)

Sebagian ulama membolehkan mengambil lagi barang seserahan itu. Mereka qiyaskan itu dengan jual beli ‘urbun (panjer/DP) dimana mayoritas ulama mengatakan tidak boleh jika ada pembatalan lantas panjer itu menjadi milik pedagang, mesti kembali ke pembelinya.

Pendapat yang paling kuat adalah pendapat mayoritas ulamaย  bahwa seserahan tidak boleh diambil lagi. Qiyas pihak yang membolehkan tidaklah pas, sebab ini bukan masalah jual beli, tapi hadiah atau pemberian yang didasari kerelaan.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🌸🌾🌴🌻🌺☘🌷

Farid Nu’man Hasan

Bahasan tentang khitbah:

Khitbah (Meminang/Melamar) Bag 1

Khitbah (Meminang/Melamar) Bag 2

Khitbah (Meminang/Melamar) Bag 3

Khitbah (Meminang/Melamar) Bag 4

Khitbah (Meminang/Melamar) Bag 5

Khitbah (Meminang/Melamar) Bag 6

Khitbah (Meminang/Melamar) Bag Terakhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top