Mengqadha Shalat; Apa dan Bagaimana? (Bag akhir)

💥💦💥💦💥💦

📌Shalat yang ditinggalkan pada masa lalu, wajibkah qadha?

Dalam hal ini sebenarnya terjadi perselisihan para imam, sebagian tetap mewajibkan qadha dengan melakukan qadha shalat yang dia tinggalkan sejauh yang dia ingat. Pada pembahasan sebelumnya telah kami jelaskan wajibnya mengqadha shalat wajib yang telah tertinggal, baik karena tertidur, lupa, dan uzur syari lainnya, yaitu dilakukan qadha secara segera ketika ingat dan sadar. Itulah yang diperintahkan dan dicontohkan nabi dan para sahabatnya, serta dititahkan segenap ulama Islam.

Bagaimana dengan seorang muslim yang pernah mengalami masa-masa suram terhadap agama, atau ketika masih ABG (Anak Baru Gede) masih malas untuk shalat, saat itu mereka masih jaahil terhadap agama, atau karena lalai, sehingga jika ditotal bisa jadi ratusan bahkan ribuan waktu shalat yang ditinggalkannya selama bertahun-tahun. Mereka baru insaf terhadap agama setelah melalui masa-masa itu, bahkan bisa jadi baru insaf ketika tua. Apakah yang seperti ini wajib qadha juga?

Mengqadha shalat adalah sebuah amalan, yang namanya amalan mesti didasarkan nash. Dalam konteks ini, tidak ada nash yang menunjukkan tentang wajibnya mengqadha puluhan, ratusan, bahkan ribuan- shalat yang pernah ditinggalkan seseorang pada masa silam. Terlebih lagi, terjadi absurditas pada bagaimana cara mengqadhanya? Ini adalah masalah penting, apalagi sudah dikatakan wajib, maka tentunya masalah sepenting ini tidak mungkin luput dari perhatian pembuat syariat, lalu luput juga dari perhatian para sahabat, dan tanpa ada keterangan para imam madzhab, dan para imam dunia dari zaman ke zaman hingga hari ini.

Oleh karena itu jawabannya -bagi sebagian ulama- adalah tidak wajib mengqadha jika sudah sampai seperti itu, tetapi wajib baginya banyak-banyak bertobat kepada Allah Taala dengan menyesali, membenci perbuatan itu, dan berjanji tidak mengulanginya, serta memperbanyak shalat sunah. Inilah yang ditunjukkan oleh nash dan difatwakan oleh sebagian imam kaum muslimin.

Paling banter, wajibnya qadha menurut Imam Madzhab pun, jika meninggalkan 5 waktu shalat saja, jika lebih maka dia memulai shalatnya sesuai waktu yang sedang terjadi.

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah menjelaskan:

ูˆู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ูˆู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูŠู‚ุถูŠู‡ุง ุจุนุฏ ุฎุฑูˆุฌ ุงู„ูˆู‚ุช ุญุชู‰ ุฅู† ู…ุงู„ูƒุง ูˆุฃุจุง ุญู†ูŠูุฉ ู‚ุงู„ุง ู…ู† ุชุนู…ุฏ ุชุฑูƒ ุตู„ุงุฉ ุฃูˆ ุตู„ูˆุงุช ูุฅู†ู‡ ูŠุตู„ูŠู‡ุง ู‚ุจู„ ุงู„ุชูŠ ุญุถุฑ ูˆู‚ุชู‡ุง ุฅู† ูƒุงู†ุช ุงู„ุชูŠ ุชุนู…ุฏ ุชุฑูƒู‡ุง ุฎู…ุณ ุตู„ูˆุงุช ูุฃู‚ู„ ุณูˆุงุก ุฎุฑุฌ ูˆู‚ุช ุงู„ุญุงุถุฑุฉ ุฃูˆ ู„ู… ูŠุฎุฑุฌ ูุฅู† ูƒุงู†ุช ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุฎู…ุณ ุตู„ูˆุงุช ุจุฏุฃ ุจุงู„ุญุงุถุฑุฉ

Berkata Abu Hanifah, Malik, dan Asy Syafiโ€™i bahwa dia harus mengqadhanya bila waktunya habis, bahkan Malik dan Abu Hanifah mengatakan barang siapa yang sengaja meninggalkan satu shalat atau beberapa shalat maka dia mesti mengqadhanya sebelum habisnya waktu hadirnya shalat. Ini jika dia meninggalkan lima waktu shalat atau kurang, baik waktu hadirnya sudah habis atau belum, ada pun jika lebih banyak dari lima waktu maka hendaknya dia memulai shalat sesuai waktu hadirnya. (Al Muhalla, 2/235)

📌 Memperbanyak shalat sunah

Khadimus Sunnah, Asy Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ุดุฑุน ุงู„ุชุทูˆุน ู„ูŠูƒูˆู† ุฌุจุฑุง ู„ู…ุง ุนุณู‰ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู‚ุฏ ูˆู‚ุน ููŠ ุงู„ูุฑุงุฆุถ ู…ู† ู†ู‚ุตุŒ ูˆู„ู…ุง ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู…ู† ูุถูŠู„ุฉ ู„ูŠุณุช ู„ุณุงุฆุฑ ุงู„ุนุจุงุฏุงุช

Disyariatkannya shalat sunah adalah untuk jabran (menambal) kekurangan yang mungkin terdapat pada shalat-shalat fardhu, lantaran pada shalat terdapat berbagai keutamaan yang tidak dimiliki oleh ibadah-ibadah lainnya. (Fiqhus Sunnah, 1/181)

Dalilnya adalah, dari Huraits bin Al Qabishah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ู…ูŽุง ูŠูุญูŽุงุณูŽุจู ุจูู‡ู ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุตูŽู„ูุญูŽุชู’ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽูู’ู„ูŽุญูŽ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุฌูŽุญูŽ ูˆูŽุฅูู†ู’ ููŽุณูŽุฏูŽุชู’ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฎูŽุงุจูŽ ูˆูŽุฎูŽุณูุฑูŽ ููŽุฅูู†ู’ ุงู†ู’ุชูŽู‚ูŽุตูŽ ู…ูู†ู’ ููŽุฑููŠุถูŽุชูู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุจู‘ู ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ ุงู†ู’ุธูุฑููˆุง ู‡ูŽู„ู’ ู„ูุนูŽุจู’ุฏููŠ ู…ูู†ู’ ุชูŽุทูŽูˆู‘ูุนู ููŽูŠููƒูŽู…ู‘ูŽู„ูŽ ุจูู‡ูŽุง ู…ูŽุง ุงู†ู’ุชูŽู‚ูŽุตูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ููŽุฑููŠุถูŽุฉู ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽูƒููˆู†ู ุณูŽุงุฆูุฑู ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ

Sesungguhnya pada hari kiamat nanti yang pertama kali dihitung dari amal seorang hamba adalah shalatnya, jika bagus shalatnya maka dia telah beruntung dan selamat. Jika buruk maka dia telah merugi dan menyesal. Jika shalat wajibnya ada kekurangan maka Allah Azza wa Jalla berfirman: Lihatlah apakah hambaKu memiliki shalat sunah? Hendaknya disempurnakan kekurangan shalat wajibnya itu dengannya. Kemudian diperhitungkan semua amalnya dengan cara demikian. (HR. At Tirmidzi No. 413, katanya: hasan, Abu Daud No. 864, Ahmad No. 9494, Ad Darimi No. 1355, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 3813, dll. Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: shahih. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan: shahih. Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 9494)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan demikian:

ุชุงุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุนู…ุฏุง ู„ุง ูŠุดุฑุน ู„ู‡ ู‚ุถุงุคู‡ุง ูˆู„ุง ุชุตุญ ู…ู†ู‡ุŒ ุจู„ ูŠูƒุซุฑ ู…ู† ุงู„ุชุทูˆุน

Orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, tidak disyatriatkan untuk mengqadhanya dan tidak sah jika dia melaksanakannya, tetapi hendaknya dengan memperbanyak shalat sunah. (Lihat Fiqhus Sunnah, 1/274)

📌 Memperbanyak Tobat

Imam Az Zarqani mengutip dari Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan, bahwa shalat sunah tidak bisa menggantikan shalat wajib yang ditinggalkan, sebab itu dosa besar, tetapi dengan bertobat sebenar-benarnya, berikut ini perkataan Imam Ibnu Abdil Bar:

ูˆู…ุนู†ู‰ ุฐู„ูƒ ุนู†ุฏูŠ ููŠู…ู† ุณู‡ุง ุนู† ูุฑูŠุถุฉ ุฃูˆ ู†ุณูŠู‡ุง ุฃู…ุง ุชุฑูƒู‡ุง ุนู…ุฏุง ูู„ุง ูŠูƒู…ู„ ู„ู‡ ู…ู† ุชุทูˆุน ู„ุฃู†ู‡ ู…ู† ุงู„ูƒุจุงุฆุฑ ู„ุง ูŠูƒูุฑู‡ุง ุฅู„ุง ุงู„ุฅุชูŠุงู† ุจู‡ุง ูˆู‡ูŠ ุชูˆุจุชู‡

Makna hadits itu adalah menurutku bagi siapa saja yang lalai dari shalat wajib atau lupa, adapun jika sengaja meninggalkannya maka tidak bisa disempurnakan dengan shalat sunah, karena itu adalah dosa besar yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan bertobat darinya. (Syarh Az Zarqani Alal Muwaththa, 1/502)

Imam Ibnu Abdil Bar berbeda dengan Imam Ibnu Taimiyah, menurutnya jika meninggalkan shalat dengan sengaja tidak bisa dihilangkan dengan shalat sunah, tetapi dengan bertobat. Namun, keduanya sepakat bukan dengan cara mengqadha shalat wajib itu.

Ada pun Imam Ibnu Hazm, Beliau berpendapat: hendaknya orang tersebut memperbanyak shalat sunah dan amal kebaikan, serta bertobat dan memohon ampun kepada Allah Taโ€™ala.

Berikut ini perkataan Imam Ibnu Hazm:

ูˆุฃู…ุง ู…ู† ุชุนู…ุฏ ุชุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุญุชู‰ ุฎุฑุฌ ูˆู‚ุชู‡ุง ู‡ุฐุง ู„ุง ูŠู‚ุฏุฑ ุนู„ู‰ ู‚ุถุงุฆู‡ุง ุฃุจุฏุง ูู„ูŠูƒุซุฑ ู…ู† ูุนู„ ุงู„ุฎูŠุฑ ูˆุตู„ุงุฉ ุงู„ุชุทูˆุน ู„ูŠุซู‚ู„ ู…ูŠุฒุงุชู‡ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ูˆู„ูŠุชุจ ูˆู„ูŠุณุชุบูุฑ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒูˆุฌู„

Ada pun orang yang sengaja meninggalkan shalat sampai habis waktunya, maka hal itu selamanya tidak bisa disetarakan dengan mengqadhanya, tetapi hendaknya dia memperbanyak melakukan perbuatan baik dan shalat sunah, agar dapat memperberat timbangannya pada hari kiamat, dan hendaknya dia bertobat dan memohon ampunan kepada Allah โ€˜Azza wa Jalla. (Lihat Fiqhus Sunnah, 1/275)

Beliau mengkritik tajam pihak yang mewajibkan qadha, katanya:

ูุฅู† ุงู„ู‚ุถุงุก ุฅูŠุฌุงุจ ุดุฑุนุŒ ูˆุงู„ุดุฑุน ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ุบูŠุฑ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู„ู‰ ู„ุณุงู† ุฑุณูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…
ูู†ุณุฃู„ ู…ู† ุฃูˆุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุนุงู…ุฏ ู‚ุถุงุก ู…ุง ุชุนู…ุฏ ุชุฑูƒู‡ ู…ู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฃุฎุจุฑู†ุง ุนู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุงู„ุชูŠ ุชุฃู…ุฑู‡ ุจูุนู„ู‡ุง ุฃู‡ูŠ ุงู„ุชูŠ ุฃู…ุฑู‡ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ุง ุฃู… ู‡ูŠ ุบูŠุฑู‡ุงุŸ

Sesungguhnya qadha adalah kewajiban yang ditentukan oleh syariat, dan syariat itu tidak boleh diambil dari selain Allah Taala melalui lisan RasulNya Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka, kami bertanya, siapakah yang mewajibkan qadha bagi orang yang sengaja tidak shalat? Kabarkan kepada kami tentang shalat yang kau perintahkan untuk melakukannya itu; apakah dia perintah Allah atau selain Allah? (Ibid)

Inilah pendapat yang nampaknya kuat bagi mereka, mengingat beberapa hal:

โœ… Para mualaf masa awal Islam tidak pernah diperintahkan mengqadha shalat yang mereka tinggalkan ketika awal-awal keislaman mereka.

โœ… Pada masa Abu Bakar dan Umar Radhiallahu Anhuma, banyak manusia yang murtad, lalu kembali lagi kepada Islam, namun mereka tidak diminta untuk mengqadha shalat yang mereka tinggalkan.

📌 Saling Menghargai Pendapat Yang Berlainan

Sebagian imam dan ini masyhur dikalangan Syafiiyah- mengatakan wajibnya qadha terhadap shalat yang pernah ditinggalkan pada masa-masa silam.

Mereka mengatakan dilakukan dengan cara:

1. Memperkirakan berapa jumlah shalat yang ditinggalkan semampunya, hingga jumlah yang menenangkan hati mereka.

2. Diqadha pada waktu-waktu yang bebas

kapan pun walaupun di waktu-waktu terlarang. Tentu pendapat ini perlu dihargai dan tidak ada pengingkaran dalam masalah yang masih debatable para ulama.

Ada pun seseorang mengqadha shalat yang baru saja ditinggalkan, lalu dia ingat dan sadar, maka telah wajib mengqadhanya menurut ijma. Sebagaimana yang nabi dan para sahabat contohkan pada hadits-hadits di awal.
Demikianlah masalah ini. Semoga bermanfaat.

Wa Shallallahu Ala Nabiyyina Muhammadin wa Ala Alihi wa Shahbihi ajmain.

โ˜˜🌺🌻🌴🌾🌸🍃🌷

โœ Farid Nu’man Hasan

Serial Meng-Qadha Shalat, Apa dan Bagaimana?

Meng-qadha Shalat, Apa dan Bagaimana? (Bag. 1)

Meng-qadha Shalat, Apa dan Bagaimana? (Bag. 2)

Mengqadha Shalat; Apa dan Bagaimana? (Bag akhir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top