Pajak Dalam Islam

💢💢💢💢💢💢💢

📌Pendapatan Negara Pada Masa Lalu:

Pada masa dahulu uang belanja negara didapatkan dari:

✔Ghanimah (harta rampasan perang)
✔ Fa’i (harta rampasan perang tanpa peperangan, musuh meninggalkan hartanya karena kabur/takut, seperti perang tabuk)
✔Jizyah dariย  Kafir Dzimmi
✔ Zakat
✔ Hadiah dari negara sahabat

Tapi saat ini dan ada beberapa sumber yang belum bisa lagi dilaksanakan (seperti ghanimah, fa’i, dan jizyah), maka banyak neger-negeri muslim menambahkan melalui sumber lain, seperti: eksport impor, hutang,ย  dan pajak.

Pajak dibolehkan oleh empat madzhab, yaitu Adh Dharaaib Al ‘Adilah (pajak yang adil), sebagai biaya belanja negara, seperti penjelasan nanti. Namun, sebagian ulama ada yang mengharamkannya, dan menyamakannya dengab Al Maks (pungli), termasuk juga penulis Indonesia yang pengharaman itu disebarkan dalam BC-BC di grup medsos. Sayangnya hanya menggunakan satu perspektif saja, yaitu pihak yabg mengharamkan, tanpa mengungkap fakta bahwa bahwa justru jumhur ulama membolehkan dgn syarat adil.

Perselisihan ini diawali oleh apakah kewajiban harta itu hanya zakat? Ataukah ada kewajiban lain selain zakat?

Berikut ini perinciannya ..

📌Benarkah Tidak Ada Kewajiban lain bagi Rakyat terhadap negara selain Zakat?

Hal ini diperselisihkan ulama:

Kelompok pertama,

Pihak yang mengatakan TIDAK ADA, alias kewajiban rakyat kepada pemerintah hanya Zakat. Inilah pendapat Imam Adz Dzahabi, Syaikh Al Albani, Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Utsaimin, dan lainnya.

Alasan mereka:

1⃣ย ย  Dari Abu Hurairah radhiallahu โ€˜anhu, sesungguhnya ada seorang Badui datang kepada Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, ia berkata:

โ€œTunjukan kepadaku amal yang jika aku kerjakan mengantarkan ke surga.โ€ Rasulullah menjawab: โ€œEngkau menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan apapun, menegakkan shalat yang wajib, menunaikan wajibnya zakat, dan puasa Ramadhan.โ€ Orang itu berkata, โ€œDemi yang jiwaku ada di tanganNya, aku tidak akan menambahnya.โ€ Ketika orang itu berlalu, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œBarangsiapa yang ingin melihat laki-laki yang termasuk ahli surga, maka lihatlah orang itu.โ€ (HR. Bukhari, Al Luโ€™luโ€™ wal Marjan, Kitab Al Iman, Bab Bayan Al Iman Alladzi yadkhulu bihi al Jannah, No. 8)

Dalam hadits shahih ini sangat jelas, bahwa kewajiban kita terhadap harta hanya satu yaitu zakat.

2⃣ย  Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu โ€˜Anhuma secara marfuโ€™, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฏู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŽ ู…ูŽุงู„ููƒูŽ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุฐู’ู‡ูŽุจู’ุชูŽ ุนูŽู†ู’ูƒูŽ ุดูŽุฑู‘ูŽู‡ู

“Jika engkau tunaikan zakat hartamu berarti telah engkauย  telah hilangkan keburukannya darimu.โ€ย  (HR.ย  Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1439, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7039, Ibnu Khuzaimah No. 2258, Ibnu โ€˜Asakir dalam Al Muโ€™jam No. 1389,ย  Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 9923)

3⃣ย  Dariย  Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฏู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŽ ู…ูŽุงู„ููƒูŽ ููŽู‚ูŽุฏู’ ู‚ูŽุถูŽูŠู’ุชูŽ ู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ

โ€œJika Engkau tunaikan zakat hartamu, maka Engkau telah memenuhi kewajibanmu.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 618, Ibnu Majah No. 1788, Al Baihaqi dalam Syuโ€™abul Iman No. 3477, Ibnu Hibban No. 3216, Ibnu Khuzaimah No. 2471, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 6/67)

4⃣ย  Mereka menyamakan pajak dengan maks (pelakunya disebut Al Maakis), yang telah dilaknat oleh Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam.

Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู„ุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุตูŽุงุญูุจู ู…ูŽูƒู’ุณู

Tidak akan masuk surga pelaku maks. (HR. Abu Daud No. 2937, Ahmad No. 17294, Abu Yaโ€™la No. 1756, Ad Darimi No. 1666, Ibnu Khuzaimah No. 2333)

Apa ituย  Al Maakis ? Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri berkata:

ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ูŠุฃุฎุฐ ู…ู† ุงู„ุชุฌุงุฑ ุฅุฐุง ู…ุฑูˆุง ุจู‡ ู…ูƒุณุงู‹

Dia adalah orang yang mengambil harta (istilah sekarang:pungli) dari para pedagang yang lewat. (Mirโ€™ah Al Mafatih, 4/233)

Disebutkan dalam Mausuโ€™ah Al Buhuts wal Maqalat Al โ€˜Ilmiyah:

ูŠูุญู…ู„ ุตุงุญุจ ุงู„ู…ูƒุณ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูˆุธู ุงู„ุนุงู…ู„ ุงู„ุฐูŠ ูŠุฌุจูŠ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ููŠุธู„ู… ููŠ ุนู…ู„ู‡ุŒ ูˆูŠุชุนุฏู‰ ุนู„ู‰ ุฃุฑุจุงุจ ุงู„ุฃู…ูˆุงู„ ููŠุฃุฎุฐ ู…ู†ู‡ู… ู…ุง ู„ูŠุณ ู…ู† ุญู‚ู‡ุŒ ุฃูˆ ูŠู‚ู„ ู…ู† ุงู„ู…ุงู„ ุงู„ุฐูŠ ุฌู…ุนู‡ ู…ู…ุง ู‡ูˆ ุญู‚ ู„ู„ูู‚ุฑุงุก ูˆุณุงุฆุฑ ุงู„ู…ุณุชุญู‚ูŠู†

Pelaku maks adalahย  petugas yang mengumpulkan zakat dan menggelapkannya yaitu dengan memungut uang melebihi hak pembayar zakat;ย  atau dia mengurangi uang yang dikumpulkannya yang semestinya merupakan hak kalangan faqir dan miskin. (Bab Dharaib wa hukmu Tauzhifiha, Hal. 12)

Kelompok kedua

Pihak yang mengatakan ADA kewajiban selain zakat dari rakyat kepada pemerintah, dan faktanya pada zaman Nabi Shalalllahu โ€˜Alaihi wa Sallam sudah ada kharaj (pajak tanah). Ini adalah pendapat para sahabat nabi, mayoritas ulama, dan merupakan pendapat empat madzhab.

Menurut mereka hadits-hadits yang dijadikan alasan kelompok pertama, seandainya shahih, tidaklah menafikan kewajiban selain zakat. Sebagaimana ditunjukkan oleh dalil lain dan fakta sejarah Islam generasi awal.

Dalil-Dalil Golongan ini:

1⃣ Surat Al Baqarah ayat 177

ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุงู„ู’ุจูุฑู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชููˆูŽู„ู‘ููˆุง ูˆูุฌููˆู‡ูŽูƒูู…ู’ ู‚ูุจูŽู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุดู’ุฑูู‚ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจู ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุจูุฑู‘ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุขูŽู…ูŽู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุขูŽุฎูุฑู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ููŠู†ูŽ ูˆูŽุขูŽุชูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูุจู‘ูู‡ู ุฐูŽูˆููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุจูŽู‰ ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽุชูŽุงู…ูŽู‰ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงูƒููŠู†ูŽ ูˆูŽุงุจู’ู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽุจููŠู„ู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽุงุฆูู„ููŠู†ูŽ ูˆูŽูููŠ ุงู„ุฑู‘ูู‚ูŽุงุจู ูˆูŽุฃูŽู‚ูŽุงู…ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ ูˆูŽุขูŽุชูŽู‰ ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ููˆูููˆู†ูŽ ุจูุนูŽู‡ู’ุฏูู‡ูู…ู’ ุฅูุฐูŽุง ุนูŽุงู‡ูŽุฏููˆุง ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽุงุจูุฑููŠู†ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุฃู’ุณูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุถู‘ูŽุฑู‘ูŽุงุกู ูˆูŽุญููŠู†ูŽ ุงู„ู’ุจูŽุฃู’ุณู ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุตูŽุฏูŽู‚ููˆุง ูˆูŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah (2): 177)

Dalam ayat ini jelas sekali Allah Taโ€™ala memisahkanย  perintah mengeluarkan harta untuk kerabat, anak yatim, miskin, musafir, dan peminta-minta, denganย  perintah mengeluarkan zakat. Artinya ada kewajiban lain terhadap harta kita selain zakat.

2⃣ Hadits Shahih Bukhari tentang hak Unta dan Kuda, yaitu memeras air susunya. Lalu air susunya wajib di sedekahkan sesuka hatinya.

Oleh karenanya Imam Ibnu Hazm Rahimahullah berkata:

ูˆูŽููŽุฑู’ุถูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุฐููŠ ุฅุจูู„ู, ูˆูŽุจูŽู‚ูŽุฑู, ูˆูŽุบูŽู†ูŽู…ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุญู’ู„ูุจูŽู‡ูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ูˆูุฑู’ุฏูู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู, ูˆูŽูŠูŽุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ู ู…ูู†ู’ ู„ูŽุจูŽู†ูู‡ูŽุง ุจูู…ูŽุง ุทูŽุงุจูŽุชู’ ุจูู‡ู ู†ูŽูู’ุณูู‡ู

Wajib kepada setiap pemilik unta, sapi, dan kambing, untuk memerah susunya, dan menyedekahkan susunya itu menurut kerelaannya. (Al Muhalla, 6/50)

Beliau menambahkan:

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฅู†ู‘ูŽู‡ู ู„ุงูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉู ููŽู‚ูŽุฏู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงู„ู’ุจูŽุงุทูู„ูŽ, ูˆูŽู„ุงูŽ ุจูุฑู’ู‡ูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุตูุญู‘ูŽุฉู ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู, ู„ุงูŽ ู…ูู†ู’ ู†ูŽุตู‘ูุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฅุฌู’ู…ูŽุงุนู, ูˆูŽูƒูู„ู‘ู ู…ูŽุง ุฃูŽูˆู’ุฌูŽุจูŽู‡ู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูููŠ ุงู„ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ู ููŽู‡ููˆูŽ ูˆูŽุงุฌูุจูŒ

Siapa yang mengatakan bahwa tidak ada hak harta selain zakat, maka dia telah mengatakan perkataan yang batil, dan tidak ada bukti kebenaran perkataannya, tidak dari nash, dan tidak pula dari ijmaโ€™, dan semua yang diwajibkan oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pada harta adalah wajib. (Ibid)

3⃣ Hadits shahih tentang memuliakan tamu, denganย  memberikan jamuan.

4⃣ Hadits shahih tentang celaan terhadap orang yang enak tidurย  padahal tetangganyaย  kelaparan.

Dan masih banyak lagi yang menunjukkan adanya kewajiban harta selain zakat.

Ini juga menjadi pendapat Imam An Nawawi, Imam Al Ghazali, Imam Asy Syatibi, dan lainnya, bahwa pajak boleh dipungut ketika negara membutuhkannya baik karena kekosongan Baitul Maal, atau kebutuhan besar yang mendesak.

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah berkata:

ูˆุฐู‡ุจ ุขุฎุฑูˆู† ู…ู†ุฐ ุนู‡ุฏ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูˆุงู„ุชุงุจุนูŠู† ุฅู„ู‰ ุฃู† ููŠ ุงู„ู…ุงู„ ุญู‚ู‹ุง ุณูˆู‰ ุงู„ุฒูƒุงุฉ
ุฌุงุก ุฐู„ูƒ ุนู† ุนู…ุฑุŒ ูˆุนู„ูŠู‘ุŒ ูˆุฃุจูŠ ุฐุฑุŒ ูˆุนุงุฆุดุฉุŒ ูˆุงุจู† ุนู…ุฑุŒ ูˆุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉุŒ ูˆุงู„ุญุณู† ุจู† ุนู„ูŠู‘ุŒ ูˆูุงุทู…ุฉ ุจู†ุช ู‚ูŠุณ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…. ูˆุตุญ ุฐู„ูƒ ุนู† ุงู„ุดุนุจูŠ ูˆู…ุฌุงู‡ุฏ ูˆุทุงูˆุณ ูˆุนุทุงุก ูˆุบูŠุฑู‡ู… ู…ู† ุงู„ุชุงุจุนูŠู†

Ulama lain berpendapat, sejak zaman sahabat dan tabi’in bahwa dalam kekayaan ada hak selain zakat. Demikian itu adalah pendapat Umar, Ali, Abu Dzar, Aisyah, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Al Hasan bin Ali, Fathimah binti Qais, ini dari golongan sahabat Radhiallahu ‘Anhum. Telah shahih dari Asy Sya’bi, Mujahid, Thawus, ‘Atha, dan selain mereka dari kalangan tabi’in. (Fiqhuz Zakah, 2/428)

Ini juga menjadi pendapat imam 4 madzhab. Syaikh Al Qaradhawi berkata:

ูู‚ู‡ุงุก ู…ู† ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ ูŠุฌูŠุฒูˆู† ุงู„ุถุฑุงุฆุจ ุงู„ุนุงุฏู„ุฉ:ูˆุจุนุฏ ุฃู† ูู†ุฏู†ุง ูƒู„ ุงู„ุดุจู‡ุงุช ุงู„ุชูŠ ูŠุชู…ุณูƒ ุจู‡ุง ู…ุนุงุฑุถูˆ ุดุฑุนูŠุฉ ุงู„ุถุฑุงุฆุจ ุงู„ุนุงุฏู„ุฉุŒ ูŠุญุณู† ุจู†ุง -ู„ุชุฃูƒูŠุฏ ู…ุง ุจูŠู‘ูŽู†ุงู‡ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ูุตู„- ุฃู† ู†ุฐูƒุฑ ุฃู† ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ู‚ุฏ ุนุฑู ุถุฑุงุฆุจ ุบูŠุฑ ุงู„ุฒูƒุงุฉุŒ ุฃุนู†ูŠ ุถุฑุงุฆุจ ุนุงุฏู„ุฉ ุฃู‚ุฑู‡ุง ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ูู‚ู‡ุงุก ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ู…ุชุจูˆุนุฉุŒ ูƒู…ุง ุนุฑููˆุง ุงู„ุถุฑุงุฆุจ ุบูŠุฑ ุงู„ุนุงุฏู„ุฉุŒ ูˆุฑุชุจูˆุง ุนู„ูŠู‡ุง ุฃุญูƒุงู…ู‹ุง.ู„ูƒู†ู‡ู… ู„ู… ูŠุทู„ู‚ูˆุง ุนู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ูˆุชู„ูƒ ุงุณู… “ุงู„ุถุฑุงุฆุจ” ุจู„ ุณู…ุงู‡ุง ุจุนุถ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู…ู† ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ: “ุงู„ูˆุธุงุฆู” ุฃูˆ “ุงู„ุฎุฑุงุฌ”. ูˆุณู…ุงู‡ุง ุจุนุถ ุงู„ุญู†ููŠุฉ: ” ุงู„ู†ูˆุงุฆุจ ” -ุฌู…ุน ู†ุงุฆุจุฉ- ูˆู‡ู‰ ุฃุณู… ู„ู…ุง ูŠู†ูˆุจ ุงู„ูุฑุฏ ู…ู† ุฌู‡ุฉ ุงู„ุณู„ุทุงู†ุŒ ุจุญู‚ ุฃูˆ ุจุงุทู„ .ูˆุณู…ุงู‡ุง ุจุนุถ ุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ: “ุงู„ูƒู„ู ุงู„ุณู„ุทุงู†ูŠุฉ” ุฃูŠ ุงู„ุชูƒู„ูŠูุงุช ุงู„ู…ุงู„ูŠุฉ ุงู„ุชูŠ ูŠูู„ุฒู… ุจู‡ุง ุงู„ุณู„ุทุงู† ุฑุนูŠุชู‡ ุฃูˆ ุทุงุฆูุฉ ู…ู†ู‡ู…

Ahli Fiqih Madzhab Empat Membolehkan Pajak Yang Adil

Setelah kita bantah semua syubhat yang dijadikan pegangan pihak yang menentang digunakannya sistem pajak yang adil, ada baiknya untuk memperkuat keterangan kita dalam bagian ini, kita katakab bahwa fiqih Islam telah mengenal pajak-pajak selain zakat, yakni pajak yang adil yang telah ditetapkan jamaah ahli fiqih dari madzhab-madzhab yang dianut sebagaimana mereka juga telah mengatahui pajak-pajak yang tdk adil dan menetapkan hukum-hukumnya. Akan tetapi para ahli fiqih itu memang tidak mengistilahkannya dengan nama “pajak”, tetapi sebagian ahli fiqih Maliki menamakannya dengan wazha-if atau kharraj. Sebagaian Hanafi menyebutย  nawa-ib, jamak dari naaibah, yaitu nama bagi sesuatu yang menggantikan seseorang dr pihak sultan dengan sesuatu yang hak atau batil. Sebagian pengikut Hambali menamakannya dgn Kalf as Sulthaniyah, yaitu beban harta yg diwajibkan sultan trhadap rakyatnya atau kepada sebagian dari mereka. (Ibid)

📌Samakah Pajak dengan Maks?

Jika diperhatikan definisinya, maka jelaslah muks lebih pas disebut dengan โ€œpajak yang zalimโ€, tentunya hal itu memang terlarang. Sedangkan yang kita bahas adalah pajak yang adil (Adh Dhara-ib Al โ€˜Adilah), manusiawi, memiliki maslahat yang jelas, dan memang diambil dari sumber yang baik dan patut, dan disalurkan untuk kepentingan kebaikan pula; seperti belanja negara untuk pembangunan, biaya peperangan, pendidikan, gaji tentara dan guru, dan semisalnya.

Oleh karena itu Imam Adz Dzahabiย  menjelaskan tentang muks:

ุงู„ู…ูƒุงุณ ู…ู† ุฃูƒุจุฑ ุฃุนูˆุงู† ุงู„ุธู„ู…ุฉุŒ ุจู„ ู‡ูˆ ู…ู† ุงู„ุธู„ู…ุฉ ุฃู†ูุณู‡ู…ุŒ ูุฅู†ู‘ู‡ ูŠุฃุฎุฐ ู…ุง ู„ุง ูŠุณุชุญู‚ ูˆูŠุนุทูŠู‡ ู„ู…ู† ู„ุง ูŠุณุชุญู‚

Pemungut pajakย  termasuk di antara pembela kezaliman, bahkan dia merupakan kezhaliman itu sendiri, karena dia memungut sesuatu yang bukanย  semestinya dan memberikan kepada orang yang tidak berhak. (Al Kabaair, Hal. 115)

Jadi, pendapat yg lebih kuat dan inshaf adalah pajak itu tidak apa-apa selama sesuai prinsip keadilan, inilah pendapat mayoritas ulama, baik klasik maupun kontemporer. Jika rakyat dizalimi karena pajak terlalu banyak dan besar, sehingga mereka merasa tercekik, maka ulama sepakat haramnya.

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah (dalam Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 5811), juga mengatakan bahwa pajak yang adil itu boleh dan bekerja dikantor pajak juga boleh, selama untuk kemaslahatan umum seperti jalanan, rumah sakit, sekolah, dan semisalnya. Ada pun pajak yang haram adalah pajak yang zalim, jk biaya belanja negara dari sumber lain sudah memadai, maka menurutnyaย  tidak perlu pajak.

Masing-masing negara kondisinya tidak sama, di Indonesia, 70% biaya belanjaย  negara diperoleh dari pajak, jika diharamkan secara mutlak maka bisa terjadi kegoncangan. Seandainya kekayaan negeri ini dikelola dengan baik, kita percaya tanpa pajak Indonesia tetap mampu berjalan dan berlari, sebagaimana Arab Saudi.

Wallahu A’lam

🌸☘🌺🌴🌻🌷🍃🌾

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top