Benarkah Imam Abu Hanifah Berpaham Murji’ah?

💢💢💢💢💢💢💢

PERTANYAAN:

Saya pernah mendengar bahwa Imam Abu Hanifah termasuk ke dalam murji’ah fuqaha. Di satu sisi, beliau digolongkan ke dalam ahlu sunnah. Mohon penjelasannya terkait hal tersebut. Saya jadi bingung karena di satu sisi murjiah disebut sebagai bentuk penyimpanan, tapi di satu sisi Imam Abu Hanifah dimasukan ke dalam kelompok murjiah. Jazakumullahu khair, Alif, Cikarang, 29 tahun, (+62 813-1692-xxxx)

JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim ..

Sebagai pendahuluan, kita perlu tahu dulu apa itu paham Murji’ah (al Irja’).

Faham Al Irja’, secara bahasa (etimologi) artinya ta’khirul ‘amal wal Imhaal (mengakhirkan amal dan menundanya).
amal dari iman, dan al Irja’ maknanya adalah ta’khir (mengakhirkan/menunda).

(Al Farqu Bainal Firaq, Hal. 230)

Secara terminologi, mereka adalah -seperti yang dikatakan Imam Sufyan bin ‘Uyainah:

ููŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุฑู’ุฌูุฆูŽุฉู ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ููŽู‡ูู…ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ: ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ู‚ูŽูˆู’ู„ูŒ ุจูู„ูŽุง ุนูŽู…ูู„ู

Murji’ah hari ini adalah kaum yang mengatakan iman itu ucapan saja, tanpa amal perbuatan.

(Tahdzibul Atsar, 2/659)

Dengan kata lain, mereka tidak menjadikan amal perbuatan sebagai unsur penting iman seseorang, cukup di hati dan perkataan saja, tanpa amal.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

ุฃูŠ ุฅุฎุฑุงุฌ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ู…ู† ู…ุณู…ู‰ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุŒ ูˆุฃู† ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ู„ุง ูŠุฒูŠุฏ ูˆู„ุง ูŠู†ู‚ุต

Yaitu mengeluarkan amal perbuatan dari penamaan iman, dan iman tidaklah bertambah dan tidak berkurang.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 227276 )

Sehingga bagi mereka iman manusia selama dihati dan dilisannya mengakui iman, tetaplah stabil. Tidak bertambah iman itu karena ketaatan, dan tidak bertambah iman itu karena maksiat. Demikian.

Kemudian, Siapakah Imam Abu Hanifah Rahimahullah?

Imam Abu Hanifah adalah salah satu imam besar umat Islam, khususnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pada masanya Beliau dijuluki sebagai ahli fiqih paling cerdas, paling mumpuni, sampai-sampai para ulama menyebutnya sebagai Imamul A’zham (imam tertinggi), sebagaimana kitab: Manaqib Imam Al Aโ€™zham Abi Hanifah, Al Khairat Al Hissan fi Manaqib Al Imam Al Aโ€™zham Abi Hanifah An Nuโ€™man, dan lainnya.

Para ulama pun menyanjungnya, dan sanjungan ini menunjukkan posisinya yang tinggi, yang hanya diraih oleh orang-orang yang benar agamanya.

Di antara sanjungan itu, misalnya:

Hayyan bin Musa Al Marwadzi berkata:

ุณุฆู„ ุงุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ: ู…ุงู„ูƒ ุฃูู‚ู‡ุŒ ุฃูˆ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ุŸ ู‚ุงู„: ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ

Ibnul Mubarak ditanya: โ€œMana yang lebih faham tentang fiqih, Malik atau Abu Hanifah? Beliau berkata: Abu Hanifah.โ€ (Siyar A’lam An Nubala, 6/402)

Imam Yahya Al Qaththan berkata:

ู„ุง ู†ูƒุฐุจ ุงู„ู„ู‡ุŒ ู…ุง ุณู…ุนู†ุง ุฃุญุณู† ู…ู† ุฑุฃูŠ ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉุŒ ูˆู‚ุฏ ุฃุฎุฐู†ุง ุจุฃูƒุซุฑ ุฃู‚ูˆุงู„ู‡

Kami tidak membohongi Allah, kami belum pernah mendengar pendapat yang lebih baik dibanding pendapat Abu Hanifah, dan kami telah mengambil lebih banyak dari pendapatnya. (Ibid)

Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi:

ูˆู‚ุงู„ ุนู„ูŠ ุจู† ุนุงุตู…: ู„ูˆ ูˆุฒู† ุนู„ู… ุงู„ุงู…ุงู… ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ุจุนู„ู… ุฃู‡ู„ ุฒู…ุงู†ู‡ุŒ ู„ุฑุฌุญ ุนู„ูŠู‡ู…
ูˆู‚ุงู„ ุญูุต ุจู† ุบูŠุงุซ: ูƒู„ุงู… ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ููŠ ุงู„ูู‚ู‡ุŒ ุฃุฏู‚ ู…ู† ุงู„ุดุนุฑุŒ ู„ุง ูŠุนูŠุจู‡ ุฅู„ุง ุฌุงู‡ู„
ูˆู‚ุงู„ ุฌุฑูŠุฑ: ู‚ุงู„ ู„ูŠ ู…ุบูŠุฑุฉ: ุฌุงู„ุณ ุฃุจุง ุญู†ูŠูุฉ ุชูู‚ู‡ุŒ ูุฅู† ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุงู„ู†ุฎุนูŠ ู„ูˆ ูƒุงู† ุญูŠุง ู„ุฌุงู„ุณู‡
ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ: ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ุฃูู‚ู‡ ุงู„ู†ุงุณ. ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ: ุงู„ู†ุงุณ ููŠ ุงู„ูู‚ู‡ ุนูŠุงู„ ุนู„ู‰ ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ

Berkata Ali bin โ€˜Ashim: โ€œSeandainya ditimbang ilmu Imam Abu Hanifah dengan ilmu manusia yang hidup pada zamannya, niscaya ilmunya lebih berat dibanding mereka.โ€

Berkata Hafsh bin Ghiyats: โ€œPerkataan Abu Hanifah dalam fiqih, lebih dalam dibanding syair, dan tidak ada yang meng-โ€™aibkan dirinya melainkan orang bodoh.โ€

Jarir berkata: Mughirah berkata kepadaku: โ€œDuduklah bersama Abu Hanifah niscaya kau akan mengerti, sungguh seandainya Ibrahim An Nakhaโ€™i hidup niscaya dia (Ibrahim) akan duduk dihadapannya (untuk belajar).โ€

Ibnul Mubarak berkata: โ€œAbu Hanifah adalah manusia paling paham tentang fiqih.โ€

Asy Syafiโ€™i berkata: โ€œDalam fiqih, manusia (para ulama) adalah satu keluarga dengan Abu Hanifah.โ€ (Ibid, 6/403)

Imam Asy Syafiโ€™i berkata:

ู‚ูŠู„

ู„ู…ุงู„ูƒ: ู‡ู„ ุฑุฃูŠุช ุฃุจุง ุญู†ูŠูุฉ ุŸ ู‚ุงู„: ู†ุนู…. ุฑุฃูŠุช ุฑุฌู„ุง ู„ูˆ ูƒู„ู…ูƒ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุณุงุฑูŠุฉ ุฃู† ูŠุฌุนู„ู‡ุง ุฐู‡ุจุง ู„ู‚ุงู… ุจุญุฌุชู‡.

Ditanyakan kepada Imam Malik: โ€œApakah engkau pernah melihat Imam Abu Hanifah? Beliau berkata: โ€œYa, aku melihat seorang laki-laki yang jika dia mengatakan kepadamu bahwa dia ingin menjadikan tiang ini emas, maka itu akan terjadi karena hujjah yang dimilikinya.โ€ (Ibid, 6/399)

Imam Abdullah bin Al Mubarak berkata:

ู„ูˆู„ุง ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ุฃุนุงู†ู†ูŠ ุจุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุณููŠุงู†ุŒ ูƒู†ุช ูƒุณุงุฆุฑ ุงู„ู†ุงุณ

Kalau bukan pertolongan Allah kepadaku melalui Abu Hanifah dan Sufyan Ats Tsauri, niscaya aku sama saja dengan kebanyakan manusia (awam). (Ibid, 6/398)

Beliau juga berkata:

ุฅู† ูƒุงู† ุงู„ุฃุซุฑ ู‚ุฏ ุนุฑู ูˆุงุญุชูŠุฌ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฑุฃูŠ ูุฑุฃูŠ ู…ุงู„ูƒ ูˆุณููŠุงู† ูˆุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ุฃุญุณู†ู‡ู… ูˆุฃุฏู‚ู‡ู… ูุทู†ุฉ ูˆุฃุบูˆุตู‡ู… ุนู„ู‰ ุงู„ูู‚ู‡ ูˆู‡ูˆ ุฃูู‚ู‡ ุงู„ุซู„ุงุซุฉ

Walau pun atsar sudah diketahui, berhujahlah dengan pendapat juga yaitu pendapat Malik, Sufyan, dan Abu Hanifah. Pendapat Abu Hanifah adalah terbaik diantara mereka, lebih detil kecerdasannya, lebih dalam fiqihnya, dan dia lebih faqih di antara bertiga itu. (Akhbar Abi Hanifah, hal. 84)

Muhammad bin Bisyr berkata: Aku pernah bergantian mengunjungi Sufyan Ats Tsauri dan Abu Hanifah. Ketika aku mendatangi Abu Hanifah dia bertanya: โ€œDari mana kamu?โ€ Aku jawab: โ€œAku datang dari sisi Sufyan Ats Tsauri.โ€ Abu Hanifah menjawab: โ€œEngkau datang dari sisi seorang laki-laki yang sendainya โ€˜Alqamah dan Al Aswad melihat semisal orang itu (maksudnya Sufyan), maka mereka berdua akan berhujjah dengannya.โ€ Lalu aku mendatangi Sufyan Ats Tsauri, dia bertanya: โ€œDari mana kamu?โ€ Aku jawab: โ€œAku datang dari sisi Abu Hanifah.โ€ Sufyan menjawab: โ€œEngkau datang dari sisi seorang yang paling faqih di antara penduduk bumi.โ€ (Tarikh Baghdad, 15/459)

Syadad bin Hakim berkata:

ู…ุง ุฑุฃูŠุช ุฃุนู„ู… ู…ู† ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ

Aku belum pernah melihat orang yang lebih berilmu dibanding Abu Hanifah. (Ath Thabaqat As Sunniyah fi Tarajim Al Hanafiyah, Hal. 29)

Abdullah bin Daud pernah berkomentar tentang orang yang suka menggunjingkan Imam Abu Hanifah:

ู„ุงูŠุชูƒู„ู… ูููŠ ุฃุจูŠ ุญู†ูŠููŽุฉ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃุญุฏ ุฑุฌู„ูŽูŠู’ู†ู ุฅูู…ู‘ูŽุง ุญูŽุงุณูุฏ ู„ุนู„ู…ู‡ ูˆูŽุฅูู…ู‘ูŽุง ุฌูŽุงู‡ูู„ ุจูุงู„ู’ุนู„ู…ู

Tidak ada yang menggunjingkan Abu Hanifah melainkan satu di antara dua laki-laki: orang yang dengki terhadap ilmunya, dan orang yang bodoh terhadap keilmuannya. (Imam Al Husein bin Ali bin Muhammad Al Hanafi, Akhbar Abi Hanifah, Hal. 64)

Bisyar bin Qirath menceritakan tentang kedudukan Imam Abu Hanifah dan Imam Sufyan Ats Tsauri:

ุญุฌุฌู’ุช ู…ูŽุนูŽ ุฃุจูŠ ุญู†ูŠููŽุฉ ูˆุณููู’ูŠูŽุงู† ููŽูƒูŽุงู†ูŽุง ุฅูุฐุง ู†ุฒู„ุง ู…ู†ุฒู„ุง ุฃูŽูˆ ุจูŽู„ู’ุฏูŽุฉ ุงุฌู’ุชู…ุน ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ููŽู‚ููŠู‡ุง ุงู„ู’ุนุฑูŽุงู‚ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุณููู’ูŠูŽุงู† ูŠู‚ุฏู… ุฃูŽุจูŽุง ุญู†ูŠููŽุฉ ูˆูŽูŠูŽู…ู’ุดูŠ ุฎูŽู„ูู‡ ูˆูŽุฅูุฐุง ุณูุฆูู„ูŽ ุนูŽู† ู…ูŽุณู’ุฃูŽู„ูŽุฉ ูˆุฃุจูˆุญู†ูŠูุฉ ุญูŽุงุถุฑ ู„ู… ูŠุฌุจ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูƒูˆู† ุฃูŽุจููˆ ุญู†ูŠููŽุฉ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุฌูŠุจ

Aku haji bersama Abu Hanifah dan Sufyan, jika mereka berdua berhenti di sebuah tempat atau negeri manusia berkumpul mengelilingi mereka, mereka bilang: โ€œAhli Fiqihnya Irak (maksudnya Abu Hanifah).โ€ Sufyan lebih mendahulukan Abu Hanifah, dia berjalan di belakangnya dan jika dia ditanya sebuah masalah dan hadir di situ Abu Hanifah, dia tidak akan menjawabnya sampai Abu Hanifah-lah yang menjawabnya. (Ibid, Hal. 73)

Dan masih banyak lagi yang lainnya.

‘Lalu benarkah Imam Abu Hanifah Rahimahullah berpaham Murji’ah?*

Para ulama menyatakan memang demikian. Itu dianggap kesalahan dan tergelincirnya Imam Abu Hanifah di tengah lautan sanjungan untuknya, dan hal itu tidak membuatnya pantas dicela.

Hal ini disebabkan dalam kitab Fiqhul Akbar -kitab yang disandarkan berasal dari Imam Abu Hanifah- Beliau berkata:

ูˆุงู„ุฅูŠู…ุงู† ู‡ูˆ ุงู„ุชุตุฏูŠู‚ ูˆุงู„ุฅู‚ุฑุงุฑ

Iman adalah pembenaran (di hati) dan ikrar (di lisan).

(Fiqhul Akbar, Hal. 85)

Pemahaman Imam Abu Hanifah ini diambilnya dari salah satu gurunya, yaitu Hammad bin Abi Sulaiman Rahimahullah yang juga salah satu imam besar di masa tabi’in, murid dari Ibrahim An Nakha’i Rahimahullah, yang mana Hammad telah menyelisihi Ahlus Sunnah dalam hal ini.

Pernyataan ini meniadakan amal sebagai syarat iman, sebagaimana pemahaman Murji’ah. Sehingga berdampak pada amal itu tidak berpengaruhย terhadap naik turunnya iman. Oleh karena itulah Imam Abul Hasan Al Asy’ari menyebutnya Murji’ah fuqaha (Murji’ahnya ahli fiqih).

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

ูˆุฃู…ุง ู†ุณุจุฉ ุงู„ู‚ูˆู„ ุจุงู„ุฅุฑุฌุงุก ู„ู„ุฅู…ุงู…ย ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉย ูุฐูƒุฑู‡ ุนู†ู‡ ุบูŠุฑ ูˆุงุญุฏย ูƒุฃุจูŠ ุงู„ุญุณู† ุงู„ุฃุดุนุฑูŠย ูˆุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุกุŒ ูˆูŠุณู…ูˆู†ู‡ ูˆุฃุชุจุงุนู‡ ุนู„ู‰ ู…ุฐู‡ุจู‡ ู‡ุฐุง ุจู…ุฑุฌุฆุฉ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก

Adapun penyandaran paham al Irja’ untuk Imam Abu Hanifah, lebih dari satu orang yg menyebutnya, seperti Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan ulama lainnya, Beliau menamakan Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya dengan madzhabnya itu sebagai Murji’ah Fuqaha.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 106466)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan:

ุฃุฌู…ุน ุฃู‡ู„ ุงู„ูู‚ู‡ ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ู‚ูˆู„ ูˆุนู…ู„ ูˆู„ุง ุนู…ู„ ุฅู„ุง ุจู†ูŠุฉ ูˆุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุนู†ุฏู‡ู… ูŠุฒูŠุฏ ุจุงู„ุทุงุนุฉย ูˆูŠู†ู‚ุตย ุจุงู„ู…ุนุตูŠุฉย ูˆุงู„ุทุงุนุงุช ูƒู„ู‡ุง ุนู†ุฏู‡ู… ุฅูŠู…ุงู† ุฅู„ุง ู…ุง ุฐูƒุฑ ุนู† ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุฃุตุญุงุจู‡ ูุฅู†ู‡ู… ุฐู‡ุจูˆุง ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุทุงุนุงุช ู„ุง ุชุณู…ู‰ ุฅูŠู…ุงู†ุง ู‚ุงู„ูˆุง ุฅู†ู…ุง ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุงู„ุชุตุฏูŠู‚ ูˆุงู„ุฅู‚ุฑุงุฑ

Telah ijma’ para ahli fiqih dan ahli hadits bahwa iman itu perkataan dan amal perbuatan. Tidak ada amal tanpa adanya niat (hati). Menurut mereka iman itu bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.

Bagi mereka, seluruh ketaatan itu adalah keimanan, kecuali apa yang disebutkan dari Abu Hanifah dan para sahabatnya, mereka berpendapat bahwa ketaatan tidaklah dinamakan iman, bagi mereka ketaatan hanyalah pembenaran di hati dan perkataan di lisan.

(At Tamhid, 9/238)

Beliau juga mengatakan:

ูˆุฃู…ุง ุณุงุฆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุฑุฃูŠ ูˆุงู„ุขุซุงุฑ ุจุงู„ุญุฌุงุฒ ูˆุงู„ุนุฑุงู‚ ูˆุงู„ุดุงู… ูˆู…ุตุฑ ู…ู†ู‡ู… ู…ุงู„ูƒ ุจู† ุฃู†ุณ ูˆุงู„ู„ูŠุซ ุจู† ุณุนุฏ ูˆุณููŠุงู† ุงู„ุซูˆุฑูŠ ูˆุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญู†ุจู„ ูˆุฅุณุญุงู‚ ุจู† ุฑุงู‡ูˆูŠู‡ ูˆุฃุจูˆ ุนุจูŠุฏ ุงู„ู‚ุงุณู… ุจู† ุณู„ุงู… ูˆุฏุงูˆุฏ ุจู† ุนู„ูŠ ูˆุฃุจูˆ ุฌุนูุฑ ุงู„ุทุจุฑูŠ ูˆู…ู† ุณู„ูƒ ุณุจูŠู„ู‡ู… ูู‚ุงู„ูˆุง ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ู‚ูˆู„ ูˆุนู…ู„ ู‚ูˆู„ ุจุงู„ู„ุณุงู† ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฅู‚ุฑุงุฑ ุงุนุชู‚ุงุฏ ุจุงู„ู‚ู„ุจ ูˆุนู…ู„ ุจุงู„ุฌูˆุงุฑุญ ู…ุน ุงู„ุฅุฎู„ุงุต ุจุงู„ู†ูŠุฉ ุงู„ุตุงุฏู‚ุฉ ู‚ุงู„ูˆุง ูˆูƒู„ ู…ุง ูŠุทุงุน ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ุจู‡ ู…ู† ูุฑูŠุถุฉ ูˆู†ุงูู„ุฉ ูู‡ูˆ ู…ู† ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ูˆุงู„ุฅูŠู…ุงู† ูŠุฒูŠุฏ ุจุงู„ุทุงุนุงุชย ูˆูŠู†ู‚ุตย ุจุงู„ู…ุนุงุตูŠ ูˆุฃู‡ู„ ุงู„ุฐู†ูˆุจ ุนู†ุฏู‡ู… ู…ุคู…ู†ูˆู† ุบูŠุฑ ู…ุณุชูƒู…ู„ูŠ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ู…ู† ุฃุฌู„ ุฐู†ูˆุจู‡ู… ูˆุฅู†ู…ุง ุตุงุฑูˆุง ู†ุงู‚ุตูŠ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุจุงุฑุชูƒุงุจู‡ู… ุงู„ูƒุจุงุฆุฑ ุฃู„ุง ุชุฑู‰ ุฅู„ู‰ ู‚ูˆู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ุง ูŠุฒู†ูŠ ุงู„ุฒุงู†ูŠ ุญูŠู† ูŠุฒู†ูŠ ูˆู‡ูˆ ู…ุคู…ู† ูˆู„ุง ูŠุณุฑู‚ ุงู„ุณุงุฑู‚ ุญูŠู† ูŠุณุฑู‚ ูˆู‡ูˆ ู…ุคู…ู† ูˆู„ุง ูŠุดุฑุจ ุงู„ุฎู…ุฑ ุญูŠู† ูŠุดุฑุจู‡ุง ูˆู‡ูˆ ู…ุคู…ู† ูŠุฑูŠุฏ ู…ุณุชูƒู…ู„ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ูˆู„ู… ูŠุฑุฏ ุจู‡ ู†ููŠ ุฌู…ูŠุน ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุนู† ูุงุนู„ ุฐู„ูƒ

Ada pun seluruh fuqaha baik ahli ra’yi (kalangan rasionalis) dan ahli atsar (ahli hadits), di Hijaz, Iraq, Syam, Mesir, seperti Malik, Laits bin Sa’ad, Sufyan Ats Tsauri, Al Auza’i, Asy Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu ‘Ubaid, Daud bin Ali, Abu Ja’far Ath Thabari, dan orang-orang yang menempuh jalan mereka, mereka mengatakan: “Iman itu perkataan dan amal perbuatan.” Perkataan dengan lisan yaitu mengikrarkan keyakinan di hati dan mengamalkan dengan anggota badan dgn niat yang ikhlas.

Mereka mengatakan semua ketaatan kepada Allah baik kewajiban dan sunnah adalah bagian dari iman. Iman bisa bertambah dgn ketaatan dan berkurang dgn maksiat.

Menurut mereka pelaku dosa adalah beriman tapi tidak sempurna imannya krn dosa-dosa mereka. Iman mereka berkurang karena dosa besar yang mereka lalukan, bukankah Anda melihat sabda Rasulullah ๏ทบ: “Tidaklah beriman seorang pezina ketika berzina, tidaklah beriman seorang pencuri ketika mencuri, dan tidaklah beriman seorang peminum khamr saat dia meminumnya,” maksudnya adalah dia tidak sempurna imannya bukan mengingkari semua iman dari pelakunya.

(Ibid, 9/243)

Di sisi inilah perbedaan Imam Abu Hanifah dengan Imam Ahlus Sunnah lainnya. Tapi, di sisi lainnya Beliau bersama dan sepakat dengan para imam tersebut. Oleh karena itu, kesesuaian salah satu sisinya dgn paham Murji’ah tidaklah membuat dia disebut murji’ah secara mutlak, dan dikeluarkan dari golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid berkata:

ูˆุงุนุชู‚ุงุฏ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ููŠ ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ ูˆููŠ ุฅุซุจุงุช ุงู„ุตูุงุช ูˆุงู„ุฑุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู‡ู…ูŠุฉ ูˆููŠ ุงู„ู‚ุฏุฑ ูˆุงุนุชู‚ุงุฏู‡ ููŠ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู… ูˆุณุงุฆุฑ ู…ุณุงุฆู„ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุงู„ูƒุจุฑู‰ ู…ูˆุงูู‚ ู„ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุณู„ู ูˆู„ู…ู†ู‡ุฌ ุฅุฎูˆุงู†ู‡ ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุŒ ุณูˆู‰ ุฃุญุฑู ูŠุณูŠุฑุฉ ู…ุฎุงู„ูุฉ ู†ู‚ู„ุช ุนู†ู‡ ุŒ ูƒู‚ูˆู„ู‡ ููŠ ุนุฏู… ุฒูŠุงุฏุฉ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ูˆู†ู‚ุตุงู†ู‡ ุŒ ูˆู‚ูˆู„ู‡ ููŠ ู…ุณู…ู‰ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุฃู†ู‡ ุชุตุฏูŠู‚ ุจุงู„ุฌู†ุงู† ูˆุฅู‚ุฑุงุฑ ุจุงู„ู„ุณุงู† ุŒ ูˆุฃู† ุงู„ุนู…ู„ ุฎุงุฑุฌ ุนู† ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ุฅูŠู…ุงู†

Aqidah Imam Abu Hanifah dalam masalah tauhid, dalam penetapan sifat-sifat Allah, bantahannya atas Jahmiyah, tentang qadar, tentang para sahabat, dan semua permasalahan besar tentang keimanan sejalan dengan manhaj salaf, dan manhaj saudara-saudaranya dari para imam madzhab, kecuali beberapa kekeliruannya dalam masalah ringan yang dinukil darinya, seperti perkataannya tentang penamaan iman sebagai hal yang dibenarkan di hati dan diikrarkan di lisan, dan amal perbuatan bukanlah bagian hakikat keimanan.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 158755)

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🌷🌻🌸🍃🌴🌵

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top