Gelisah Karena Hutang

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Kalau kita tidak bisa melunasi huang akan tetapi ajal sudah menjemput kita,gimana pertanggung jawabannya nanti di kubur dan di akhirat,sedangkan saya sudah bersungguh sungguh akan tetapi ga mampu Itu yg terkadang membuat saya gelisah (+62 813-1677-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim …

Dalam banyak hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, tertera tentang buruknya keadaan orang yang wafat dalam keadaan berhutang.

Di antaranya, kami sampaikan tiga saja:

1. Jiwanya “tergantung” sampai hutang itu dilunaskan

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู†ูŽูู’ุณู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ู…ูุนูŽู„ู‘ูŽู‚ูŽุฉูŒ ุจูุฏูŽูŠู’ู†ูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูู‚ู’ุถูŽู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู

โ€œJiwa seorang mukmin “tergantung” karena hutangnya, sampai hutang itu dilunaskannya.โ€

(HR. At Tirmidzi No. 1079, katanya: hasan. Ahmad No. 10607. Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: shahih. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 10607). Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: hasan. (Tahqiq Musnad Abi Yaโ€™la No. 6026)

Imam Asy Syaukani Rahimahullah menjelaskan:

ููŠู‡ ุงู„ุญุซ ู„ู„ูˆุฑุซุฉ ุนู„ู‰ ู‚ุถุงุก ุฏูŠู† ุงู„ู…ูŠุช ูˆุงู„ุฅุฎุจุงุฑ ู„ู‡ู… ุจุฃู† ู†ูุณู‡ ู…ุนู„ู‚ุฉ ุจุฏูŠู†ู‡ ุญุชู‰ ูŠู‚ุถู‰ ุนู†ู‡

Dalam hadits ini terdapat dorongan bagi ahli waris untuk melunasi hutang si mayit, dan pengabaran bagi mereka bahwa jiwa mayit tersebut tergantung karena hutangnya, sampai hutang itu lunas. (Nailul Authar, 4/23)

Jika belum dilunasi, maka jiwa mayit tersebut โ€œtergantungโ€ โ€ฆโ€ฆ. Apa makna tergantung?
Para ulama berselisih pendapat dalam memaknai muโ€™allaqah (tergantung) dalam hadits ini.

Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarfkafuri Rahimahullah menjelaskan:

ู‚ุงู„ ุงู„ุณูŠูˆุทูŠ ุฃูŠ ู…ุญุจูˆุณุฉ ุนู† ู…ู‚ุงู…ู‡ุง ุงู„ูƒุฑูŠู… ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุนุฑุงู‚ูŠ ุฃูŠ ุฃู…ุฑู‡ุง ู…ูˆู‚ูˆู ู„ุง ุญูƒู… ู„ู‡ุง ุจู†ุฌุงุฉ ูˆู„ุง ู‡ู„ุงูƒ ุญุชู‰ ูŠู†ุธุฑ ู‡ู„ ูŠู‚ุถู‰ ู…ุง ุนู„ูŠู‡ุง ู…ู† ุงู„ุฏูŠู† ุฃู… ู„ุง ุงู†ุชู‡ู‰

Berkata As Suyuthi, yaitu orang tersebut tertahan untuk mencapai tempatnya yang mulia. Sementara Imam Al โ€˜Iraqi mengatakan urusan orang tersebut terhenti (tidak diapa-apakan), sehingga tidak bisa dihukumi sebagai orang yang selamat atau binasa, sampai ada kejelasan nasib hutangnya itu sudah dibayar atau belum. Selesai. (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/193)

2. Mati Syahid pun terhambat ke surga karena hutangnya

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ูŠูุบู’ููŽุฑู ู„ูู„ุดู‘ูŽู‡ููŠุฏู ูƒูู„ู‘ู ุฐูŽู†ู’ุจู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ุฏู‘ูŽูŠู’ู†

โ€œOrang yang mati syahid diampuni semua dosanya kecuali hutangnya.โ€ (HR. Muslim No. 1886)

Dari Muhammad bin Jahsy Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐูู‰ ู†ูŽูู’ุณูู‰ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ู„ูŽูˆู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ู‚ูุชูู„ูŽ ููู‰ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูุญู’ูŠูู‰ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูุชูู„ูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฏูŽูŠู’ู†ูŒ ู…ูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูู‚ู’ุถูŽู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฏูŽูŠู’ู†ูู‡ู

Demi yang jiwaku ada ditanganNya, seandainya seorang laki-laki terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu dia terbunuh lagi dua kali, dan dia masih punya hutang, maka dia tidak akan masuk surga sampai hutangnya itu dilunasi. (HR. Ahmad No. 22546, Al Hakim No. 2212, katanya: shahih )

Al Qadhi โ€˜Iyadh Rahimahullah menjelaskan:

ููŠู‡ ุชู†ุจูŠู‡ ุนู„ู‰ ุฃู† ุญู‚ูˆู‚ ุงู„ุงูŽุฏู…ูŠู† ูˆุงู„ุชุจุนุงุช ุงู„ุชู‰ ู„ู„ุนุจุงุฏ ู„ุง ุชูƒูุฑู‡ุง ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุตุงู„ุญุฉ ูˆุฅู†ู…ุง ุชูƒูุฑ ู…ุง ุจูŠู† ุงู„ุนุจุฏ ูˆุฑุจู‡

Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa hak-hak yang terkait dengan manusia dan tanggungannya, tidaklah bisa dihapuskan dengan amal shalih, sebab amal shalih itu hanya menghapuskan hal-hal yang terkait antara manusia dengan Rabbnya. (Ikmalul Muโ€™lim, 6/155. Al Syarh Shahih Muslim, 6/362)

Imam Al Munawi Rahimahullah mengatakan:

ูˆุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจู‡ ุฌู…ูŠุน ุญู‚ูˆู‚ ุงู„ุนุจุงุฏ ู…ู† ู†ุญูˆ ุฏู… ูˆู…ุงู„ ูˆุนุฑุถ ูุฅู†ู‡ุง ู„ุง ุชุบูุฑ ุจุงู„ุดู‡ุงุฏุฉ ูˆุฐุง ููŠ ุดู‡ูŠุฏ ุงู„ุจุฑ ุฃู…ุง ุดู‡ูŠุฏ ุงู„ุจุญุฑ ููŠุบูุฑ ู„ู‡ ุญุชู‰ ุงู„ุฏูŠู† ู„ุฎุจุฑ ููŠู‡

Maksud hutang di sini adalah semua hak manusia baik berupa darah, harta, dan kehormatan. Hal itu tidaklah bisa diampuni dengan mati syahid, itu untuk syahid perang darat, ada pun syahid perang laut, maka dia diampuni termasuk hutangnya, berdasarkan adanya riwayat tentang itu.

( Faidhul Qadir, 6/599)

3. Berhutang tapi sengaja tidak bayar maka disamakan dengan mencuri

Dari Shuhaib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃูŽูŠู‘ูู…ูŽุง ุฑูŽุฌูู„ู ูŠูŽุฏููŠู†ู ุฏูŽูŠู’ู†ู‹ุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูุฌู’ู…ูุนูŒ ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ูŠููˆูŽูู‘ููŠูŽู‡ู ุฅููŠู‘ูŽุงู‡ู ู„ูŽู‚ููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุณูŽุงุฑูู‚ู‹ุง

Laki-laki mana pun yang berhutang dan dia tidak berencana untuk membayarnya kepada pemiliknya, maka ia akan menjumpai Allah dengan status sebagai pencuri.
(HR. Ibnu Majah No. 2401, hasan)

Dan masih banyak bahaya lainnya … Wal ‘Iyadzubillah!

Lalu, hutang atau orang berhutang yang seperti apakah yang dimaksud hadits-hadits di atas?

Apakah semua orang berhutang lalu meninggal maka keadaannya seperti itu? Atau hanya untuk hutang tertentu?

Hutang diatas -yang membawa dampak buruk bagi mayit- adalah hutang yang dilakukan oleh orang yang tidak berniat untuk melunasinya, padahal dia mampu. Ada pun bagi yang berniat melunasinya, tetapi ajal keburu menjemputnya (sebagaimana pertanyaan saudara penanya), atau orang yang tidak ada harta untuk membayarnya, dan dia juga berniat melunasinya, maka itu dimaafkan bahkan Allah Taโ€™ala yang akan membayarnya.

Al Qadhi โ€˜Iyadh Rahimahullah mengatakan:

ูˆูŠูƒูˆู† ู‡ุฐุง ููŠู…ู† ู„ู‡ ุจู‚ุถุงุก ู…ุง ุนู„ูŠู‡ ู…ู† ุงู„ุฏูŠู†

Hal ini (ancaman-ancaman dalam hadits dibatas) berlaku bagi orang yang memiliki sesuatu (mampu) untuk melunasi hutangnya. (Al Ikmal, 6/155)

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

ูˆู‡ุฐุง ู…ู‚ูŠุฏ ุจู…ู† ู„ู‡ ู…ุงู„ ูŠู‚ุถู‰ ู…ู†ู‡ ุฏูŠู†ู‡ ูˆุฃู…ุง ู…ู† ู„ุง ู…ุงู„ ู„ู‡ ูˆู…ุงุช ุนุงุฒู…ู‹ุง ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ุถุงุก ูู‚ุฏ ูˆุฑุฏ ููŠ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ู…ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูŠู‚ุถูŠ ุนู†ู‡

Ini terkait pada siapa saja yang memiliki harta yang dapat melunasi hutangnya. Ada pun orang yang tidak memiliki harta dan dia bertekad melunaskannya, maka telah ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa Allah Taโ€™ala akan melunasi untuknya. (Nailul Authar, 4/23)

Juga dikatakan oleh Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah:

ูˆูŠุญุชู…ู„ ุฃู† ุฐู„ูƒ ููŠู…ู† ุงุณุชุฏุงู† ูˆู„ู… ูŠู†ูˆ ุงู„ูˆูุงุก

Yang demikian itu diartikan bagi siapa saja yang berhutang namun dia tidak berniat untuk melunasinya. (Subulus Salam, 3/51)

Ini juga dikatakan Imam Al Munawi:

ูˆุงู„ูƒู„ุงู… ููŠู…ู† ุนุตู‰ ุจุงุณุชุฏุงู†ุชู‡ ุฃู…ุง ู…ู† ุงุณุชุฏุงู† ุญูŠุซ ูŠุฌูˆุฒ ูˆู„ู… ูŠุฎู„ู ูˆูุงุก ูู„ุง ูŠุญุจุณ ุนู† ุงู„ุฌู†ุฉ ุดู‡ูŠุฏุง ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡

Perbincangan tentang ini berlaku pada siapa saja yang ingkar terhadap hutangnya. Ada pun bagi orang yang berhutang dengan cara yang diperbolehkan dan dia tidak menyelisihi janjinya, maka dia tidaklah terhalang dari surga baik sebagai syahid atau lainnya. (Faidhul Qadir, 6/ 559)

Ada beberapa riwayat dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam yang menunjukkan bahwa orang yang berhutang lalu dia wafat dalam keadaan tidak ada kemampuan, padahal berniat untuk melunasinya maka Allah Taโ€™ala yang akan membayarkannya.

Dari Maimunah Radhiallahu โ€˜Anha, bahwa Rasululah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูŠูŽุฏู‘ูŽุงู†ู ุฏูŽูŠู’ู†ู‹ุง ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูุฑููŠุฏู ุฃูŽุฏูŽุงุกูŽู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽุฏู‘ูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง

โ€œTidaklah seorang muslim berhutang, dan Allah mengetahui bahwa dia hendak menunaikannya, melainkan Allah Taโ€™ala akan menunaikannya di dunia.โ€

(HR. Ibnu Majah No. 2408, An Nasaโ€™i No. 4686, Shahih. Lihat Shahihul Jamiโ€™ No. 5677)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูŠูุฑููŠุฏู ุฃูŽุฏูŽุงุกูŽู‡ูŽุง ุฃูŽุฏู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ูŠูุฑููŠุฏู ุฅูุชู’ู„ูŽุงููŽู‡ูŽุง ุฃูŽุชู’ู„ูŽููŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

โ€œBarangsiapa mengambil harta manusia dan dia hendak melunasinya, maka niscaya Allah akan melunaskan baginya. Barangsiapa yang mengambil lalu hendak menghancurkannya maka Allah akan menghancurkan dia.โ€

(HR. Bukhari No. 2387)

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shalallahu’Ala Nabiyyina Muhammadin wa’ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top