Memindahkan dan Menembok Kuburan

📌📌📌📌📌📌

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum. Ustadz, ada pertanyaan mungkin utk Ustadz Farid Nu’man dari Manis-I20 sbb :

Sahabatku,

Aku mau nanya soal Kuburan yg sudah Lama Banget yg ada disamping Rumah kita…

Haruskah kita pindahkan ke Pemakaman Massal kuburan tsb ?

atau Bolehkah kita kasi Keramik diatasnya untuk perluasan rumah ?

Tolong Jawab pertanyaan saya ini ya ust…Syukron🙏🏻
Dimas I20

📬 JAWABAN

💢💢💢💢💢💢

Wa’alaikumussalam warahmatullah .. Bismillah wal Hamdulillah ..

Pertama. Memindahkan Kuburan

Membongkar mayat di kuburnya dan memindahkannya tanpa keperluan syarโ€™i adalah terlarang menurut para ulama. Sebab pemindahan itu dapat menyakiti dan menghinakan mayat tersebut. Larangan ini berdasarkan hadits-hadits berikut:

ุฅูู†ู‘ูŽ ูƒูŽุณู’ุฑูŽ ุนูŽุธู’ู…ู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ู…ูŽูŠู’ุชู‹ุง ู…ูุซู’ู„ู ูƒูŽุณู’ุฑูู‡ู ุญูŽูŠู‘ู‹ุง

Sesungguhnya mematahkan tulang seorang muโ€™min yang sudah wafat sama seperti mematahkannya saat hidupnya. (HR. Abu Daud No. 3207, Ibnu Majah No. 1616, Ahmad No. 24308, dll. Syaikh Syuโ€™aib Al Arnaโ€™uth mengatakan para perawinya terpercaya. Lihat Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 24308)

Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan hadits ini:

ูˆูŠุณุชูุงุฏ ู…ู†ู‡ ุฃู† ุญุฑู…ุฉ ุงู„ู…ุคู…ู† ุจุนุฏ ู…ูˆุชู‡ ุจุงู‚ูŠุฉ ูƒู…ุง ูƒุงู†ุช ููŠ ุญูŠุงุชู‡

Dari hadits ini terdapat faidah, bahwa kehormatan seorang muโ€™min setelah wafatnya masih ada sebagaimana dahulu saat dia masih hidup. ( Fathul Bari, 9/113)

Ath Thayyibiy Rahimahullah berkata:

ุฅุดุงุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠู‡ุงู† ู…ูŠุชุง ูƒู…ุง ู„ุง ูŠู‡ุงู† ุญูŠุง

Ini adalah isyarat bahwa tidak boleh menghinakan mayat, sebagaimana tidak boleh menghinanya saat hidup. ( โ€˜Aunul Maโ€™bud, 9/18)

Dalil lainnya, โ€˜Amru bin Hazm Radhiallahu โ€˜Anhu bercerita: Nabi ๏ทบ melihatku sedang besandar di kuburan, Beliau bersabda:

ู„ุง ุชุคุฐ ุตุงุญุจ ุงู„ู‚ุจุฑ

Jangan sakiti penghuni kubur. (HR. Ath Thahawi dalam Syarh Maโ€™anil Atsar No. 2944, Alauddin Muttaqi dalam Kanzul โ€˜Umal No. 42988. Al Hafzih Ibnu Hajar mengatakan: sanadnys shahih. (Fathul Bari, 3/225). Lihat juga Syarh Az Zarqani โ€˜alal Muwaththa, 2/97)

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah menjelaskan:

ู†ู‡ู‰ ุนู† ุฃุฐูŠุฉ ุงู„ู…ู‚ุจูˆุฑ ู…ู† ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู†ุŒ ูˆุฃุฐูŠุฉ ุงู„ู…ุคู…ู† ู…ุญุฑู…ุฉ ุจู†ุต ุงู„ู‚ุฑุขู† {ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูุคู’ุฐููˆู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุง ุงูƒู’ุชูŽุณูŽุจููˆุง ููŽู‚ูŽุฏู ุงุญู’ุชูŽู…ูŽู„ููˆุง ุจูู‡ู’ุชูŽุงู†ุงู‹ ูˆูŽุฅูุซู’ู…ุงู‹ ู…ูุจููŠู†ุงู‹}

Dilarang menyakiti penghuni kubur dari kalangan orang-orang beriman. Menyakiti seorang muโ€™min diharamkan berdasarkan nash Al Quran: Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. Al Ahzab: 58). ( Subulus Salam, 2/120)

Demikianlah alasan terlarangnya memindahkan mayit yang sudah kubur jika tanpa keperluan syarโ€™iy. Tapi jika ada alasan yang dibenarkan, atau darurat, tidak apa-apa. Seperti adanya perluasan kawasan pemukiman penduduk yang semakin banyak, dan amat diperlukan umat Islam, sebab kepentingan yang masih hidup diutamakan terlibih dahulu. Atau pemindahan karena tanah kubur longsor, kebanjiran, dan sebab lainnya.

Dalam Madzhab Syafiโ€™iy, disebutkan:

ูŠุญุฑู… ู†ู‚ู„ู‡ ุจุนุฏ ุฏูู†ู‡ ุฅู„ุง ู„ุถูˆุฑุฉ ูƒู…ู† ุฏูู† ููŠ ุฃุฑุถ ู…ุบุตูˆุจุฉ ููŠุฌูˆุฒ ู†ู‚ู„ู‡ ุฅู† ุทุงู„ุจ ุจู‡ุง ู…ุงู„ูƒู‡ุง

Diharamkan memindahkan mayat setelah dikuburnya kecuali darurat seperti mayat yang dikuburkan di tanah yang dirampas, maka boleh memindahkannya atas permintaan pemiliknya. ( Al Fiqhu โ€˜Alal Madzahib Al Arbaโ€™ah, 1/843)

Sementara dalam Madzhab Malikiy, disebutkan โ€“ dan ini lebih lengkap lagi:

ูŠุฌูˆุฒ ู†ู‚ู„ ุงู„ู…ูŠุช ู‚ุจู„ ุงู„ุฏูู† ูˆุจุนุฏู‡ ู…ู† ู…ูƒุงู† ุฅู„ู‰ ุขุฎุฑ ุจุดุฑูˆุท ุซู„ุงุซุฉ : ุฃูˆู„ู‡ุง : ุฃู† ู„ุง ูŠู†ูุฌุฑ ุญุงู„ ู†ู‚ู„ู‡ ุซุงู†ูŠู‡ุง : ุฃู† ู„ุง ุชู‡ุชูƒ ุญุฑู…ุชู‡ ุจุฃู† ูŠู†ู‚ู„ ุนู„ู‰ ูˆุฌู‡ ูŠูƒูˆู† ููŠู‡ ุชุญู‚ูŠุฑ ู„ู‡ ุซุงู„ุซู‡ุง : ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู†ู‚ู„ู‡ ู„ู…ุตู„ุญุฉ ูƒุฃู† ูŠุฎุดู‰ ู…ู† ุทุบูŠุงู† ุงู„ุจุญุฑ ุนู„ู‰ ู‚ุจุฑู‡ ุฃูˆ ูŠุฑุงุฏ ู†ู‚ู„ู‡ ุฅู„ู‰ ู…ูƒุงู† ู„ู‡ ู‚ูŠู…ุฉ ุฃูˆ ุฅู„ู‰ ู…ูƒุงู† ู‚ุฑูŠุจ ู…ู† ุฃู‡ู„ู‡ ุฃูˆ ู„ุฃุฌู„ ุฒูŠุงุฑุฉ ุฃู‡ู„ู‡ ุฅูŠุงู‡ ูุฅู† ูู‚ุฏ ุดุฑุท ู…ู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุดุฑูˆุท ุงู„ุซู„ุงุซุฉ ุญุฑู… ุงู„ู†ู‚ู„

Dibolehkan memindahkan mayat sebelum dan sesudah dikubur dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan tiga syarat:

1. Mayat tidak rusak ketika dipindahkan
2. Tidak sampai menodai kehormatannya, yaitu memindahkan dengan cara yang dapat menghinakannya
3. Kepindahan itu karena ada sesuatu maslahat, seperti takut kubur tersapu oleh lautan, atau memindahkan ke tempat yang memiliki nilai tersendiri, atau tempat yang lebih dekat dengan kleuarganya, atau karena supaya dekat diziarahi keluarganya.

Jika satu syarat dari ketiga syarat ini tidak terpenuhi, maka haram memindahkannya. ( Ibid)

Pembolehan ini berdasarkan riwayat berikut:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู†ูŽุถู’ุฑูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฏูููู†ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุฃูŽุจููŠ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ููŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุทูุจู’ ู†ูŽูู’ุณููŠ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌู’ุชูู‡ู ููŽุฌูŽุนูŽู„ู’ุชูู‡ู ูููŠ ู‚ูŽุจู’ุฑู ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูุฏูŽุฉู

Dari Abu Nadhrah, dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu ia berkata: ada seorang laki-laki dimakamkan bersama mayat ayahku, namun jiwaku tidak enak, hingga akhirnya aku keluarkan beliau dari kuburan dan aku kuburkan beliau dalam satu kubur sendiri. (HR. Al Bukhari No. 1352)

Demikian. Wallahu A’lam

Kedua. Menembok Kubur

Membangun kuburan atau mendirikan tembok di sisi kubur adalah terlarang, sebagaimana hadits berikut:

ู†ู‡ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู† ูŠุฌุตุต ุงู„ู‚ุจุฑ ูˆุฃู† ูŠู‚ุนุฏ ุนู„ูŠู‡ ูˆุฃู† ูŠุจู†ู‰ ุนู„ูŠู‡

Rasulullah ๏ทบ melarang mengecat/mengapur kubur, duduk di atasnya, dan membangunnya. (HR. Muslim No. 970)

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah mengatakan:

ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุชุญุฑูŠู… ุงู„ุซู„ุงุซุฉ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑุฉ ู„ุฃู†ู‡ ุงู„ุฃุตู„ ููŠ ุงู„ู†ู‡ูŠ. ูˆุฐู‡ุจ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ููŠ ุงู„ุจู†ุงุก ูˆุงู„ุชุฌุตูŠุต ู„ู„ุชู†ุฒูŠู‡

Hadits ini merupakan dalil haramnya tiga hal tersebut, karena hukum asal dari larangan adalah haram. Sedangkan mayoritas ulama mengatakan bahwa larangan membangun dan mengapur adalah untuk tanzih (sesuatu yang sepantasnya ditinggalkan). ( Subulus Salam, 2/111)

Imam Al Munawi Rahimahullah mengatakan:

(ูˆุฃู† ูŠุจู†ูŠ ุนู„ูŠู‡) ู‚ุจุฉ ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ุง ููŠูƒุฑู‡ ูƒู„ ู…ู† ุงู„ุซู„ุงุซุฉ ุชู†ุฒูŠู‡ุง

Nabi melarang (Membangun bangunan atasnya) yaitu kubah dan selainnya, maka dimakruhkan tiga hal itu sebagai hal yang selayaknya ditinggalkan (tanzih).

Lalu beliau juga berkata:

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู‚ูŠู… : ูˆุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ุงู„ู…ุจู†ูŠุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ุจูˆุฑ ูŠุฌุจ ู‡ุฏู…ู‡ุง ุญุชู‰ ุชุณูˆู‰ ุงู„ุฃุฑุถ ุฅุฐ ู‡ูŠ ุฃูˆู„ู‰ ุจุงู„ู‡ุฏู… ู…ู† ู…ุณุฌุฏ ุงู„ุถุฑุงุฑ ุงู„ุฐูŠ ู‡ุฏู…ู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆูƒุฐุง ุงู„ู‚ุจุงุจ ูˆุงู„ุฃุจู†ูŠุฉ ุงู„ุชูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ุจูˆุฑ ูˆู‡ูŠ ุฃูˆู„ู‰ ุจุงู„ู‡ุฏู… ู…ู† ุจู†ุงุก ุงู„ุบุงุตุจ ุงู‡
ูˆุฃูุชู‰ ุฌู…ุน ุดุงูุนูŠูˆู† ุจูˆุฌูˆุจ ู‡ุฏู… ูƒู„ ุจู†ุงุก ุจุงู„ู‚ุฑุงูุฉ ุญุชู‰ ู‚ุจุฉ ุฅู…ุงู…ู†ุง ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุงู„ุชูŠ ุจู†ุงู‡ุง ุจุนุถ ุงู„ู…ู„ูˆูƒ

Imam Ibnul Qayyim berkata: masjid yang dibangun di atas kubur wajib dihancurkan sampai rata dengan tanah, bahkan dia lebih utama dihancurkan dibanding masjid dhirar yang pernah dihancurkan Nabi ๏ทบ , demikian juga kubah-kubah di atas kubur dia lebih layak dihancurkan dibandingkan bangunannya, dst. Ulama Syafiโ€™iyah memfatwakan wajib menghancurkan semua bangunan di qarafah (tanah kuburan) sampai-sampai kubah imam kita sendiri, Imam Asy Syafiโ€™iy, yang telah dibangun oleh pihak kerajaan. ( Faidhul Qadir, 6/402)

Namun, Imam Asy Syafiโ€™i membolehkan meninggikan kuburan tidak sampai melebihi sejengkal, sebagai tanda itu adalah kubur agar tidak terinjak-injak manusia. ( Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 5/286-287)

Jadi, kalau membangunnya tidak sampai melebihi sejengkal tidak apa-apa, sebagai tanda itu adalah kubur. Selebihnya terlarang.

Wallahu Aโ€™lam

🌸🌴☘🌾🌻🌺🍃🌿

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top