Polemik Ru’yah dan Hisab

💦💥💦💥💦💥

📨 PERTANYAAN:

Apakah hukum menentukan awal bulan Ramadhan/awal bulan syawal dengan hisab? Bagaimanakah asal muasal hisab itu? Dalam penjelasan kitab bulughul maram yang pernah saya dapat, metode yang disepakati (ijma) para ulama bahwa penentuan ramadhan, syawal, dll memakai metode rukyat. Mohon penjelasannya ustadz. (Fitriardi Afiatmoko)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜Ala Rasulullah wa Baโ€™d:

Saat ini di dunia Islam, memang terkenal dengan dua cara dalam menentukan awal masuk bulan atau berakhirnya, yaitu ruโ€™yatul hilal (melihat bulan sabit) dan hisab. Ada sebagian orang yang memadukan keduanya sebagai, ruโ€™yah sebagai dasar sedangkan hisab sebagai penguatnya. Ada pula yang hanya hisab, karena dinilainya sebuah ilmu pasti yang mendatangkan keyakinan, sedangkan ruโ€™yah masih zhanni (dugaan) tergantung manusia yang meruโ€™yah. Ada pula yang hanya ruโ€™yah, dan mengingkari bahkan membidโ€™ahkan hisab.
Di negeri kita keduanya dipakai, oleh karena itu ada Badan Hisab dan Rukyat. Ormas besar seperti Nahdhatul Ulama menggunakan keduanya, sedangkan Muhammadiyah menggunakan hisab saja.

📌Keduanya Memiliki Dasar

Jika kita lihat, kedua kelompok ini memiliki dasar dalam sumber-sumber Islam, hanya saja mereka beda paham dalam menafsirkan dasar-dasar tersebut.

📌Alasan Pihak yang Meruโ€™yah

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุตููˆู…ููˆุง ู„ูุฑูุคู’ูŠูŽุชูู‡ู ูˆูŽุฃูŽูู’ุทูุฑููˆุง ู„ูุฑูุคู’ูŠูŽุชูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุบูุจู‘ููŠูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ููŽุฃูŽูƒู’ู…ูู„ููˆุง ุนูุฏู‘ูŽุฉูŽ ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซููŠู†ูŽ

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berhari rayalah karena melihatnya, jika hilal hilang dari penglihatanmu maka sempurnakan bilangan Syaโ€™ban sampai tiga puluh hari. (HR. Bukhari No. 1909)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ููŽุตููˆู…ููˆุง ู„ูุฑูุคู’ูŠูŽุชูู‡ู ูˆูŽุฃูŽูู’ุทูุฑููˆุง ู„ูุฑูุคู’ูŠูŽุชูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุฃูุบู’ู…ููŠูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ููŽุงู‚ู’ุฏูุฑููˆุง ู„ูŽู‡ู ุซูŽู„ูŽุงุซููŠู†ูŽ

Maka berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berhari rayalah karena melihatnya, lalu jika kalian terhalang maka ditakarlahlah sampai tiga puluh hari. (HR. Muslim No. 1080, 4)

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽู‡ู’ุฑู ุชูุณู’ุนูŒ ูˆูŽุนูุดู’ุฑููˆู†ูŽ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุตููˆู…ููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุฑูŽูˆู’ู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชููู’ุทูุฑููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุฑูŽูˆู’ู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุบูู…ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ููŽุงู‚ู’ุฏูุฑููˆุง ู„ูŽู‡ู

Sesungguhnya sebulan itu 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihatnya (hilal), dan janganlah kalian berhari raya sampai kalian melihatnya, jika kalian terhalang maka takarkan/perkirakan/hitungkanlah dia. (HR. Muslim No. 1080)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa cara mengetahui masuk dan berakhirnya bulan adalah yang ruโ€™yah (melihat), bukan dengan hisab (menghitung). Solusi pun sudah ada, yaitu jika tertutup oleh awan, sehingga tidak tampak hilal, maka digenapkan sampai 30 hari saja di bulan tesebut. Sikap seorang muslim adalah ittibaโ€™ (mengikuti) Nabi ๏ทบ bukan menyelisihinya.

Inilah pendapat mayoritas ulama Islam dari masa ke masa di neger-negeri muslim.

📌Alasan Pihak Yang Meng-hisab

Pihak yang menggunakan metode hisab memiliki beberapa alasan:

Pertama. Digunakannya ruโ€™yah pada masa Nabi ๏ทบ, karena memang ilmu hitung belum berkembang, bahkan umumnya mereka adalah kaum yang tidak mengenal baca dan tulis. Maka, mana mungkin menggunakan hisab? Artinya, penggunakaan hisab sangat wajar karena situasinya seperti itu.

Dalam Al Quran Allah Taโ€™ala berfirman:

ู‡ููˆูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุจูŽุนูŽุซูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูู…ู‘ููŠู‘ููŠู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุชู’ู„ููˆ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุขูŽูŠูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽูŠูุฒูŽูƒู‘ููŠู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูุนูŽู„ู‘ูู…ูู‡ูู…ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉูŽ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ููˆุง ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ู„ูŽูููŠ ุถูŽู„ูŽุงู„ู ู…ูุจููŠู†ู

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al Jumuโ€™ah (62): 2)

Ada pun dalam Al Hadits, dari Ibnu Umar Radhilallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅูู†ู‘ูŽุง ุฃูู…ู‘ูŽุฉูŒ ุฃูู…ู‘ููŠู‘ูŽุฉูŒ ู„ูŽุง ู†ูŽูƒู’ุชูุจู ูˆูŽู„ูŽุง ู†ูŽุญู’ุณูุจู

Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak menulis dan tidak menghitung. (HR. Bukhari No. 1913, Muslim no. 1080, Abu Daud No. 2319, dll)

Kedua. Penggunaan hisab sudah terisyaratkan dalam hadits berikut:

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽู‡ู’ุฑู ุชูุณู’ุนูŒ ูˆูŽุนูุดู’ุฑููˆู†ูŽ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุตููˆู…ููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุฑูŽูˆู’ู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชููู’ุทูุฑููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุฑูŽูˆู’ู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุบูู…ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ููŽุงู‚ู’ุฏูุฑููˆุง ู„ูŽู‡ู

Sesungguhnya sebulan itu 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihatnya (hilal), dan janganlah kalian berhari raya sampai kalian melihatnya, jika kalian terhalang maka takarkan/perkirakan/hitungkanlah dia. (HR. Muslim No. 1080)

Menurut mereka, makna โ€œfaqdiruu lahuโ€ maka hitunglah atau perkirakanlah. Ini merupakan alasan yang tegas atas hujjah metode hisab.

Ketiga. Mereka beralasan bahwa ilmu hisab adalah ilmu ukur yang pasti, seandainya ilmu ini sudah ada pada masa Nabi dan para sahabatnya, pasti mereka juga menggunakannya. Sebab Islam itu berdasarkan kepastian, bukan dugaan.

Allah ๏ทป berfirman:

ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูุบู’ู†ูู‰ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ุดูŽูŠู’ุฆุงู‹

Dan sesungguhnya dugaan itu tidaklah mencukupi untuk mencapai kepada kebenaran. (QS. An Najm: 53)

Pendapat ini yang dikuatkan dan dipilih para imam seperti Ibnu Suraij, As Subki, Al Maraghi, Ahmad Syakir, Al Qaradhawi, dan lainnya. Bahkan Syaikh Ahmad Muhammad Syakir Rahimahullah, ahli hadits Mesir, mewajibkan hisab bukan hanya membolehkan, setelah dahulunya dia menolak, karena menurutnya kepastian yang ada pada ilmu hisab. Demikian.

Sebenarnya masalah ini, bagi para ahli ilmu sudah tidak lagi menjadi polemik sebab mereka tahu memang ini sudah didebatkan sejak lama. Tapi, polemik ini kembali dihidupkan oleh orang-orang yang memang hobi berdebat dan menyerang kebiasaan muslim lainnya. Sehingga kembali umat mundur. Perselisihan tersisa yang terjadi para ulama, bukan lagi ruโ€™yah versus hisab, tetapi batasan derajat minimal untuk wujudul hilal itu berapa? Ini tentu sudah ranah ahli falak, bukan lagi semata-mata perselisihan para fuqaha.

Wallahu Aโ€™lam

🌾🌻🌸🌺☘🌷🌴🍃

✏ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top