Ruwaibidhah yang Merendahkan Ulama

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Ini hadiah bagi yang telah berlaku merendahkan para ulama dan orang tua.

Dari โ€˜Ubadah bin Ash Shaamit Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูู…ูŽู‘ุชููŠ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฌูู„ูŽู‘ ูƒูŽุจููŠุฑูŽู†ูŽุง ูˆูŽูŠูŽุฑู’ุญูŽู…ู’ ุตูŽุบููŠุฑูŽู†ูŽุง ูˆูŽูŠูŽุนู’ุฑููู’ ู„ูุนูŽุงู„ูู…ูู†ูŽุง ุญูŽู‚ูŽู‘ู‡ู

Bukan termasuk umatku, orang yang tidak menghormati orang besar kami (orang tua, pen), tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak para ulama kami.โ€ (HR. Ahmad No. 22755, Al Bazzar No. 2718, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsar No. 1328, Asy Syaasyi dalam Musnadnya No. 1272. Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 22755)

Tiga hal dalam hadits ini yang dinilai bukan golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, yakni:

1. Tidak menghormati orang besar/orang tua.

2. Tidak sayang dengan yang kecil

3. Tidak mengetahui hak ulama yang dengan itu dia merendahkannya

Imam Ibnu โ€˜Asakir memberikan nasihat buat kita, khususnya orang yang merendahkan ulama (karena mungkin merasa sudah jadi ulama sehingga dia berani merendahkannya!):

ูŠุง ุฃุฎูŠ ูˆูู‚ู†ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุฅูŠุงูƒ ู„ู…ุฑุถุงุชู‡ ูˆุฌุนู„ู†ุง ู…ู…ู† ูŠุบุดุงู‡ ูˆูŠุชู‚ูŠู‡ ุญู‚ ุชู‚ุงุชู‡ ุฃู† ู„ุญูˆู… ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู…ุณู…ูˆู…ุฉ ูˆุนุงุฏุฉ ุงู„ู„ู‡ ููŠ ู‡ุชูƒ ุฃุณุชุงุฑู…ู†ุชู‚ุตูŠู‡ู… ู…ุนู„ูˆู…ุฉ ูˆุฃู† ู…ู† ุฃุทู„ู‚ ู„ุณุงู†ู‡ ููŠ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุจุงู„ุซู„ุจ ุงุจุชู„ุงู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู‚ุจู„ ู…ูˆุชู‡ ุจู…ูˆุช ุงู„ู‚ู„ุจ ูู„ูŠุญุฐุฑ ุงู„ุฐูŠู† ูŠุฎุงู„ููˆู† ุนู† ุฃู…ุฑู‡ ุฃู† ุชุตูŠุจู‡ู… ูุชู†ุฉ ุฃูˆ ูŠุตูŠุจู‡ู… ุนุฐุงุจ ุฃู„ูŠู…

Wahai saudaraku โ€“semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda untuk mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita termasuk orang yang bertaqwa kepadaNYa dengan sebenar-benarnya- dan Ketahuilah, bahwa dagingโ€“daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang meremehkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa siapa yang melepaskan mulutnya untuk mencela ulama maka Allah akan memberikan musibah baginya dengan kematian hati sebelum ia mati: maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 30. Mawqiโ€™ Al Warraq)

📌 Apakah Ar Ruwaibidhah?

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ยซุณูŽูŠูŽุฃู’ุชููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุณูŽู†ูŽูˆูŽุงุชูŒ ุฎูŽุฏู‘ูŽุงุนูŽุงุชูุŒ ูŠูุตูŽุฏู‘ูŽู‚ู ูููŠู‡ูŽุง ุงู„ู’ูƒูŽุงุฐูุจูุŒ ูˆูŽูŠููƒูŽุฐู‘ูŽุจู ูููŠู‡ูŽุง ุงู„ุตู‘ูŽุงุฏูู‚ูุŒ ูˆูŽูŠูุคู’ุชูŽู…ูŽู†ู ูููŠู‡ูŽุง ุงู„ู’ุฎูŽุงุฆูู†ูุŒ ูˆูŽูŠูุฎูŽูˆู‘ูŽู†ู ูููŠู‡ูŽุง ุงู„ู’ุฃูŽู…ููŠู†ูุŒ ูˆูŽูŠูŽู†ู’ุทูู‚ู ูููŠู‡ูŽุง ุงู„ุฑู‘ููˆูŽูŠู’ุจูุถูŽุฉูยป ุŒ ู‚ููŠู„ูŽ: ูˆูŽู…ูŽุง ุงู„ุฑู‘ููˆูŽูŠู’ุจูุถูŽุฉูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุงู„ุชู‘ูŽุงููู‡ู ูููŠ ุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ู’ุนูŽุงู…ู‘ูŽุฉูยป

โ€œAkan datang ke pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, saat itu pendusta dibenarkan, orang yang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang dipercaya justru dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhah berbicara.โ€ Ditanyakan: โ€œApakah Ar-Ruwaibidhah?โ€ Beliau bersabda: โ€œSeorang laki-laki yang bodoh (Ar Rajul At Taafih) tetapi sok mengurusi urusan orang banyak.โ€ (HR. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912. Dihasankan oleh Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth dalam Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 7912. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: sanadnya jayyid. Lihat Fathul Bari, 13/84)

Inilah zaman itu. Pembohong dibenarkan, orang benar didustakan. Para pengkhianat diberikan amanah, orang yang amanah justru dikhianatk.

Para ulama direndahkan fatwanya, kepribadian mereka dilecehkan, dan dibuat jauh dari umatnya, sementara tukang dongeng, artis, dan pengkhotbah karbitan dijunjung tinggi dan dijadikan rujukan. Ulama berbicara tidak didengar, justru dihina, boro-boro ditaati, tapi ketika para pendongeng berbicara justru didengar, dikutip, dan disebarkan.

Itulah Ar-Ruwaibidhah โ€ฆ, secara bahasa merupakan tashghir (pengecilan) dari Ar Raabidh yang artinya berlutut. Ya, saat itu banyak orang-orang yang rendah (berlutut) tetapi justru banyak bicara.

Wallahul Musta’an

🌾🌿🌷🌻🌳☘🌸🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top